H-3 Ramadan, Ziarah di Pusara Tak Bernama

0
309

JUMAT sore di pemakaman massal Poboya, seorang ibu paruh baya tampak mondar mandir seorang diri. Suasana masih sunyi. Peziarah lainnya belum tampak. Ia terus mengamati satu persatu batu nisan. Sesaat kemudian, duduk di tepi, mengatupkan dua tangannya di dada, lalu berdoa. Dia adalah Ditje Mandey (46) seorang ibu asal Larantuka – NTT. Ia mengaku, kesini karena mengetahui menjelang ramadan banyak kerabat yang ziarah kubur.

Kedatangannya di kompleks kuburan massal Poboya, korban gempa bumi, tsunami dan liquefaksi yang terletak di ketinggian Poboya ini, mendoakan kawannya Hasni yang meninggal dihempas ombak tsunami 28 September tahun lalu. ”Sampai saat ini saya tidak tahu dia dikubur dimana. Tapi kemungkinan dia meninggal karena tsunami, saat itu dia jalan dengan kawan-kawannya di Kampung Kaili. Sejak saat itu tidak ada lagi kabarnya,” ungkap Ditje. ”Kemungkinan ia di sini,” katanya lagi. Sebelum kejadian sempat komunikasi via watshaap. ”Katanya ia sedang perjalanan salat magrib, itu saja yang dia bilang,” ungkap pemeluk Katolik taat ini.

Sesaat kemudian, gelombang peziarah mulai berdatangan. H-3 ramadan, kerabat, sahabat dan peziarah memenuhi kompleks pemakaman umum itu. Dari pengakuan peziarah tak satu pun yang mengetahui dimana letak penguburan kerabat mereka. Rata-rata hanya berasumsi, jika meninggal atau hilang di sepanjang Pantai Talise, besar kemungkinan dikebumikan di pekuburan massal di Poboya. ”Rata-rata mayat akibat tsunami dan liquefaksi di Balaroa di bawa di Rumah Sakit Bhayangkara dan RS Undata. Semua mayat kan dibawa kesini. Kecuali yang didapat keluarganya,” jelas Ahamdi, ustad pembaca doa ziarah.

Peziarah dari Balaroa Nur (54) datang bersama anak perempuannya, menuturkan ia tidak tahu dimana anak perempuan dan dua cucunya dikuburkan. Tapi ketiganya hilang di Pantai Talise. Saat itu ia sedang Desa Toaya. Kepastian anak dan cucunya hilang diketahuinya pada hari ketiga musibah. ”Saya sudah keliling rumah sakit, cari cari di kantong mayat tapi tidak ketemu mereka. Saya berdoa di sini karena yakin mereka ada di sini,” ungkapnya sambil mengusap air matanya.

Untuk menandainya, Nur kemudian menjejer batu sebesar kepalan tangan dan menaruh nisan di ujungnya. ”Mungkin anak saya tidak persis di bawah ini. Tapi saya yakin mereka di sini. Di sekitar ini,” duganya. Di situlah ia dan anak perempuannya merapal doa, membaca ayat-ayat suci mengenang orang-orang belahan hatinya.

Di jarak yang tak terlalu jauh, berdiri mematung dua orang. Keduanya tampak mencari-cari sambil menunduk meneliti satu persatu tulisan di batu nisan. Keduanya asal Pengavu. Dua belas orang di dalam rumah, menjadi korban tsunami di Pantai Talise. ”Kami tidak tahu dimana kuburannya, mungkin juga di sini,” ungkap perempuan sambil menggamit lengan kawannya. Kelak ia nanti akan mengikuti langkah Ibu Nur, membuat jejeran batu berbentuk persegi empat, lalu membuat batu nisan. ”Seolah itu kuburan mereka, kami ziarahnya nanti di situ saja,” ucapnya nelangsa.

Masih di tempat yang sama, seorang perempuan terlihat menuangkan air ke batu nisan dengan perlahan. Mulutnya terus merapal doa. Di batu nisan tertulis, Abidin Labambe lahir 1975 – wafat 28 September 2018. Ibu ini lahir di Kalukubula.

Namun tinggal bersama suaminya di Jalan Suprapto. Suaminya katanya tewas di lokasi Palu Nomoni – Kampung Kaili. Tak banyak kata yang terucap dari mulutnya. Sesaat kemudian mengalunlah suara mengaji dari smartphone miliknya. 20 menitan ia bertahan di sana. Menabur kembang. Mengecup nisan lalu berdiri pulang.

Beberapa, pelayat tampak berdiri di samping makam bertulis, Irma Polii – mantan jurnalis di Radar Sulteng, yang wafat akibat tsunami di Kampung Kaili. Mereka pun mengusap figura foto dan mendoakannya.

Sore itu, doa lintas iman, lintas kepercayaan terdengar meriung di angkasa. Disertai angin semilir menebar semerbak wangi bunga kamboja yang bertebaran di atas ribuan nisan tak bernama. ***

Penulis + Foto: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini