Greenpeace Indonesia: Pemulihan Palu Harus Berbasis Energi Bersih

0
233

PALU — Greenpeace, sebuah organisasi internasional yang berfokus di isu lingkungan, turut aktif dalam penanganan bencana di Sulawesi Tengah selama dua bulan. Mereka menggabungkan aksi kemanusiaan dengan kampanye energi terbarukan.

Upaya yang dilakukan Greenpeace adalah membantu akses air bersih menggunakan tenaga matahari sebagai penggerak pompa. Bantuan itu diberikan untuk dua desa yakni Desa Rogo Kabupaten Sigi dan Desa Loru, Kabupaten Donggala.

Seberapa mendesakkah penggunaan energi terbarukan dalam penanganan bencana di Sulawesi Tengah? Kabar Sulteng Bangkit berkesempatan mewawancarai Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjutak, di sela-sela aktivitasnya di Desa Baluase, Kabupaten Sigi, Jumat 23 November lalu.

Menurut Leonard, Greenpeace memilih panel surya dalam penanganan bencana karena selain mudah dipasang, cepat, dan teknologinya tersedia. “Biayanya juga relatif lebih murah,” katanya.

Langkah itu juga penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang energi terbarukan, sehingga Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada energi dari fosil.

Selama ini, pemanfaatan tenaga surya pada penanganan bencana belum dilakukan pemerintah. Sehingga Greenpeace selalu membawa teknologi panel surya ke daerah-daerah yang dilanda gempa seperti Aceh, Padang, Lombok dan kini Sulawesi Tengah.

Leo menjelaskan, pemanfaatan energi terbarukan cukup penting dalam penanganan bencana. Di Sulawesi Tengah misalnya, jaringan listrik yang dipasok oleh PLTU Panau, rusak total karena terdampak bencana. Padahal sebagian kebutuhan listrik dipasok dari PLTU tersebut.

Sesuai catatan redaksi bahwa kebutuhan listrik di Palu, Donggala dan Sigi dipasok oleh PLTU Panau sebesar 52 megawatt dan PLTA Sulewana sebanyak 102 megawatt.

Di situasi darurat tersebut, pemerintah sebenarnya bisa menggunakan energi matahari untuk memenuhi kebutuhan listrik sehingga tidak perlu mendatangkan mesin genset. “Jadi panel surya bisa menjadi energi utama Palu ke dépannya,” kata dia.

Pemakaian energi dari fosil (batubara) di PLTU-PLTU indonesia, kata Leo, menyumbangkan emisi kotor yang menyebaban pemanasan global. Selain itu, energi fosil mengakibatkan penurunan kualitas kesehatan penduduk, seperti yang dialami warga yang tinggal di sekitar PLTU Panau.

Sebagai negara tropis, Sulawesi Tengah punya potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan. Kuncinya harus ada kemauan besar dari semua pihak. Operasi kemanusiaan pemulihan Palu pascabencana, kata dia, harus disertai pemenuhan energi yang ‘bersih’ untuk menyelamatkan warga.

“Apalagi di Palu yang kata orang mataharinya lebih dari satu. Potensi tenaga surya ini sangat melimpah dan pemanfaatannya bisa sangat luas,” kata Leo.

Sehingga, Leo mendorong Pemerintah mempertimbangkan secara serius, upaya pemulihan atau rekonstruksi suplai energi di Palu menggunakan panel surya daripada memulihkan PLTU Panau yang biayanya pasti lebih besar.

Untuk menuju ke arah itu, pemerintah harus berani membuat kebijakan yang fundamental untuk beralih ke energi terbarukan. Misalnya 30 persen energi listrik di Palu bisa dipasok melalui energi matahari. Sisanya 70 persen bisa memaksimalkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sulewana di Poso.

“Pilihannya adalah apakah kita terus ingin menggunakan energi dari fosil yang mahal, merusak dan kotor, atau kita pakai energi yang ramah lingkungan dan terbarukan seperti matahari ini,” kata Leo mengakhiri.

Reporter: Basri Marzuki
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini