Gempabumi M 3,4 Tak Terkait Satu Tahun Bencana

0
291

PALU – Kepala Seksi Informasi dan Data Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Hendrik Leopatty, menghimbau masyarakat Kota Palu dan sekitarnya tetap tenang dan tidak panik saat terjadi gempabumi. Hal ini disampaikan BMKG dengan munculnya kekhawatiran di masyarakat setelah gempa bumi berkekuatan M 3.4, pada Selasa 10 September 2019 pukul 21.17 WITA.

Gempa di kedalaman 10 kilometer, dengan titik episentrum 0.93 LS – 119.89 BT tersebut, menimbulkan trauma bagi masyarakat. Mereka mengaitkannya menjelang satu tahun bencana 28 September 2018. Sebelumnya masyarakat Kota Palu juga dibuat resah dengan kabar akan adanya gempa dari Segmen Moa, Sesar Palu Koro.

Hendrik Leopatty, mengatakan, meskipun gempa M 3,4 tersebut berasal dari Sesar Palu Koro namun tidak berkaitan dengan gempabumi 28 September 2018. Sebab pelepasan energi dalam akumulasi besar telah terjadi sejak 28 September 2018 hingga awal November 2018.

Kemudian, dilanjutkan pelepasan energi ke level menengah hingga kecil pada November hingga Desember 2018. Terakhir, pelepasan energi kecil ke tahap akhir, diperkirakan telah berlangsung dari Januari hingga Maret 2019.

“Jadi, jika dilihat dari aspek pelepasan energi, posisi gempa lusa lalu adalah normal,” jelasnya.

Efek guncangan gempabumi M 3,4 dirasakan berbeda oleh setiap warga, sebab terpengaruh oleh faktor efek tapak lokal gempa. Fenomena ini secara sederhana, didasari oleh permukaan lembah Palu yang tersusun dari batuan sedimen tipe sedang hingga lunak, dengan ketebalan variatif di setiap penjuru kota.

“Sehingga misal sumber gempa bumi di dekat batas Palu – Sigi, maka efek guncangan yang masuk di sekitar Jalan Kijang, Touwa, dan sekitarnya, akan lebih terasa dibanding di wilayah Tondo,” ujarnya.

Faktor lainnya juga bergantung dengan ketebalan sedimen dan penguatan guncangan gempa (amplifikasi) yang akan lebih tinggi dirasakan oleh warga yang dekat sumber gempa.

Efek tapak lokal secara umum, kata dia, dapat dilihat oleh warga di masing-masing kelurahan. Sebab BPBD Palu telah mendistribusikan peta indeks kerentanan gempa ke 46 kelurahan. Peta tersebut dapat dilihat pula di BPBD Kota Palu, untuk scope 1 kota.

Hingga Rabu 11 September 2019 pukul 16.45 WITA, sudah terjadi dua gempabumi lainnya di wilayah Palu dan sekitarnya akibat pergerakan Sesar Palu Koro.

Dua gempa yang terekam oleh BMKG tersebut antara lain gempa berkekuatan 2.8 yang terjadi pukul 00.04 WITA, dengan titik episentrum 198 kilometer arah tenggara Kota Palu, atau di wilayah Desa Pili Makujawa, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi.

Serta gempa berkekuatan 3.4 yang terjadi pukul 14.26 WITA, dengan titik episentrum 33 kilometer arah utara Kota Palu atau lepas pantai Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala.

Selanjutnya, terkait keluhan sebagian masyarakat tentang lambannya berita gempa yang dirilis, menurut Hendrik, sebagai dampak pencurian alat pendeteksi gempa di Sigi, beberapa waktu lalu. Hal ini menyebabkan pengamat butuh waktu lebih lama untuk melakukan analisa pascagempa terjadi.

“Selain itu, kami berupaya memberi detail akurat, jadi hasil yang diperoleh, divalidasi dahulu sebelum informasinya dilepas ke publik. Keterlambatan informasi juga salah satunya disebabkan oleh faktor jaringan komunikasi internet di kantor kami, yang tidak secepat sebelum gempa 2018,” ujarnya.

Untuk proses dari saat terjadinya gempa bumi hingga informasi sampai kepada masyarakat kata Hendrik, dimulai dari proses menunggu data masuk sekitar 3 menit, lalu proses sekitar 2 menit (menit ke-5) sehingga dapat hasil.

Selanjutnya sekitar 2 menit lagi untuk validasi (menit ke-7), dan setelah itu baru diinput ke aplikasi dan kemudian disebar ke publik sekitar 1 menit (menit ke-8). Biasanya kata dia, jika tidak ada masalah dengan jaringan internet, butuh waktu 1 menit hingga info sudah terpublish keluar atau di menit ke-10, masyarakat sudah menerima infonya.

Khusus untuk gempa yang guncangannya dilaporkan terasa oleh masyarakat, maka, pengamat membutuhkan waktu tambahan sekitar 2 sampai 3 menit, agar info gempa yang diperoleh masyarakat, disertai wilayah mana saja yang merasakan.

“Semua gempa tersebut biasanya dengan kekuatan di bawah 4.0. Kalau gempanya berkekuatan 4.0 hingga 4.9, umumnya lebih cepat sekitar 2 menit dan jika di atas 5.0 di bawah 6 menit,” ujarnya.[]

Reporter : Jefrianto
Editor     : Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini