Gempa Bukanlah Pembunuh

0
164

PALU — Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Muhammad Burhannudin, mengatakan, warga tidak perlu takut untuk tinggal di atas patahán lempeng aktif sesar Palu Koro. Sebab gempa yang ditimbulkan akibat pergerakan sesar itu, bukanlah pembunuh.

‘’Jatuhnya korban disebabkan terkena reruntuhan, hempasan gelombang tsunami dan lain lain. Ini akibat lemahnya mitigasi,” kata Burhan, dalam dialog bersama 80an warga di pengungsian Petobo, Rabu 5 Desember 2018. Diskusi itu mengambil judul: “Menata Ruang/Wilayah Berbasis Partisipasi Masyarakat Pasca Bencana 3in1”.

Burhan menjelaskan, mitigasi adalah serangkaian kegiatan yang direncanakan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mencegah terjadinya korban. Dalam merencanakan mitigasi, pemerintah hanya sebagai fasilitator. Namun kesadaran mitigasi bencana harus tetap dimiliki oleh warga. ”Jika kesadaran itu ada, kemungkinan korban bisa ditekan,” katanya.

Dia mengingatkan, bahwa kesadaran mitigasi bukan sekedar simulasi yang menciptakan jalur-jalur serta tindakan evakuasi saat terjadi bencana. Kesadaran mitigasi lebih terkait cara pandang bahwa masyarakat di Sulawesi Tengah hidup di daerah yang rentan bencana.

Ketua Ekspedisi Palu Koro, Tri Nirmala Ningrum, mengatakan, bencana 28 September harus menjadi pelajaran berharga bagi warga Sulteng. Manusia yang tinggal di sesar aktif seperti sesar Palukoro, memang sulit untuk menghindari bencana. Maka, upaya yang bisa dilakukan adalah dengan menekan jumlah korban, terutama korban manusia.

”Ambil pelajaran dari sini, ke depan sadar bencana hendaknya datang dari diri sendiri. Itu adalah yang paling baik,” kata Nirmala.

Menurut dia, Tim Ekspedisi Palu Koro telah meneliti sesar Palu Koro sejak 2012. Pada Juli 2017 dan Agustus 2018, Tim sudah menemui Gubernur Sulteng Longki Djanggola serta berbagai pihak terkait untuk menyampaikan temuan-temuan hasil riset.

Beberapa hasil riset itu, kata Nirmala adalah rincian mengenai langkah langkah kontijensi jika bencana terjadi. Sebab tim meyakini bahwa Palu Koro adalah salah satu patahan aktif di Indonesia yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan energi. Rincian kontijensi tersebut di antaranya seperti penentuan titik kumpul yang aman dari terjangan tsunami atau goncangan gempa, hingga skenario untuk berkumpul ke arah Bandara Mutiara Sis Aljufri.

Hasil riset tersebut, kata dia, sejatinya akan diterbitkan menjadi buku. Tapi, sebelum rencana itu terwujud, bencana 28 September 2018 terjadi.

“Karena itu membekali warga dengan pengetahuan tentang mitigasi bencana adalah langkah yang tidak bisa ditunda lagi,” kata dia.[]

Penulis: Yardin Hasan
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini