Fesitval Anak Pasigala, Mengembalikan Keceriaan Anak-Anak Penyintas

0
123

PALU – Ratusan anak-anak penyintas akibat musibah September 2018 lalu, tampak ceria menikmati dunia mereka – dunia bermain. Tak terlihat kecemasan, frustasi atau wajah-wajah galau. Sebaliknya, anak-anak itu tampak gembira menikmati aneka game yang disajikan Yayasan Plan Indonesia – selama sehari penuh di Taman GOR Palu, akhir pekan lalu.

Mobilisasi anak-anak Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala), yang diinisiasi Plan Indonesia bekerjasama dengan Pemprov Sulteng, memang dimaksudkan untuk menghilangkan trauma akibat gempa sembilan bulan lalu itu.

Ini dibenarkan Yulies Puspita, Business Development Manager – Plan Indonesia, ditemui di sela-sela kesibukannya di lokasi kegiatan akhir pekan lalu. Menurut dia, kegiatan pemberdayaan anak-anak untuk bangkit dari keterpurukan, sudah dilakukan sejak awal musibah – dan terus berlangsung hingga hari ini.

Bersama Plan Indonesia aku Puspita, pihaknya ingin memastikan keberadaan anak-anak di wilayah terdampak gempa, agar bisa kembali bangkit dan meraih harapan masa depan sesuai yang diinginkannya. ‘’Kita fokus membangun kepercayaan diri mereka, agar bangkit dari keterpurukan dan menghilangkan trauma. Dengan begitu mereka bisa mengklaim satu tempat terbaik untuk masa depannya,’’ ungkap perempuan ramah ini.

Karena itu, kemasan acaranya dibuat menghibur merangsang anak-anak untuk mengembangkan kreativitasnya. Seperti olahraga, cipta lagu, menggambar serta seni kerajinan patung dari tanah liat. Kehadiran bintang tamu, seperti Witan Sulaiman – pesepakbola belia asal Palu dan Zahra Musdalifah, membuat suasana hari itu makin heboh.

Hajatan yang dibuka Sekdaprov Sulteng Hidayat Lamakarate itu, menghadirkan pula pembicara dari pemerhati anak, pemerintah daerah serta dari Plan Indonesia itu sendiri. Menurut Puspita, keterlibatan Plan Indonesia secara intens dalam pemberdayaan anak-anak penyintas di Pasigala, adalah bentuk komitmen lembaganya dalam menyiapkan anak-anak terdampak gempa menyambut masa depannya – dengan penuh keceriaan tanpa harus dibayangi trauma.

Salah satu langkah konkretnya adalah pembentukan rumah ramah anak yang tersebar di berbagai tempat di Donggala, Palu dan Kabupaten Sigi. Di rumah ramah anak, relawan Plan Indonesia, berdiskusi intens, mencoba menyelami permasalahan mendasar anak-anak lalu memberikan solusi agar mereka tidak merasa terus menerus ditekan perasaan takut atas musibah yang bisa datang sewaktu-waktu.

Di rumah ramah anak itulah, sambung dia mereka mencoba menanamkan kesadaran tentang hak-hak dasar mereka. Hak untuk sekolah, hak untuk bermain dan menikmati dunianya. Termasuk menanamkan kesadaran tentang apa yang harus dilakukan sebagai anak-anak yang memilih hidup di tempat dengan potensi bencana yang sangat tinggi. ‘’Semacam mitigasi bencana,’’ katanya menguraikan.

Anisah (16) salah satu pelajar, di sela kesibukannya memilin tanah liat, mengaku sangat terhibur kegiatan outdoor yang digelar salah satu lembaga kemanusiaan itu. Ia mengaku, rasa trauma secara perlahan telah hilang dari benaknya. Walau demikian ia masih enggan berlama-lama di kawasan pantai.

Saat peristiwa naas itu, ia dan kawannya sedang berada di Pantai Taman Ria hendak menuju Palu Grand Mall. Beruntung, posisinya sedang berada di jalan sehingga gampang melarikan diri ke tempat lebih tinggi. ‘’Saya besoknya baru tembus ke rumah,’’ kenangnya.

Saat ini di tengah upaya Plan Indonesia membangun semangat anak-anak di Pasigala, masih ada problem besar yang menghantui kehidupan anak-anak di pengungsian. Peristiwa yang sebenarnya jamak terjadi menimpa anak-anak perempuan di Indonesia. Baik itu, karena doktrin budaya, kondisi ekonomi maupun intervensi sepihak dari kalangan orang tua. Yakni pernikahan anak.

Puspita mengatakan, pihaknya memberi perhatian lebih pada isu ini. Namun lembaganya tidak bisa berjalan sendiri. Ini problem sosial yang akut. Tidak semata hanya antara anak dan orang tuanya. ‘’Tapi ada paham-paham dan norma sosial yang melegitimasi pernikahan dini. Makanya penanganannya harus multisektor,’’ jelasnya.

Pihaknya, melalui rumah ramah anak, mengampanyekan ini. Tidak saja kepada anak dan orang tua. Tetapi juga kepada berbagai kalangan, agamawan, tokoh masyarakat di desa. ‘’Saya kira ini persoalan serius. Jangan sampai masa depan anak-anak kita terampas hal hal macam ini. Selain kelompok sosial masyarakat, Negara juga hadir untuk mengurai masalah ini,’’ tutupnya. ***

Penulis: Yardin Hasan
Foto: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini