Dulu, Wilayah Dolo Diduga Kawasan Pesisir Pantai

0
1038
Teluk Palu

PALU – Sejarah kebencanaan di Lembah Palu, telah terdokumentasi sejak lama. Jejaknya terlacak hingga di Negeri Belanda. Ahli geologi Belanda E. C. Abendanon, mengungkap fakta ini dalam penelitiannya. Salah satunya adalah pesisir pantai yang menyasar hingga di wilayah Dolo – Sigi.

Penelitian ini juga fokus di wilayah Mamboro yang kini berada di wilayah Kecamatan Palu Utara. Wilayah yang terletak 13 KM arah utara Palu, ternyata telah lama menjadi perhatian para ahli, khususnya ahli geologi dan geografi.

Ahli geologi Belanda, E. C. Abendanon yang melakukan penelitian di Sulawesi Tengah pada tahun 1909 hingga 1910, dalam hasil penelitiannya yang menjadi buku berjudul Midden-Celebes-Expeditie: Geologische en Geographische Doorkruisingen van Midden-Celebes (1909-1910) atau Ekspedisi Sulawesi Tengah: Persilangan Geologi dan Geografi di Sulawesi Tengah (1909-1910) ini, menjadikan Mamboro sebagai salah satu wilayah lokus penelitiannya.

Dalam buku yang terbit tahun 1915 ini, Abendanon menjelaskan proses awal penelitiannya, dengan melakukan pengukuran dari Palu ke Mamboro. Dan dari Palu ke Donggala, untuk memetakan Teluk Palu. hasil penelitiannya cukup mengejutkan, kawasan dataran rendah di utara Donggala dan aktivitas dari Sungai Palu saat itu, memberikan dampak mundurnya garis pantai ke arah selatan. dirinya memperkirakan, jarak mundurnya garis pantai ini mencapai sekitar 100 depa atau 182,88 meter.

Indikasi bahwa laut (garis pantai) telah lebih ke arah selatan daripada sekarang, karena dirinya menemukan, di Dolo ada air tanah yang payau di kedalaman 2 meter. Selain itu, di dataran antara Palu dan Mamboro, di sana-sini di tanah, ada potongan batu kapur atau batu gamping, yang merupakan batuan lautan.

Selain itu, Abendanon juga mengamati depresi yang terjadi di pinggiran timur Teluk Palu, akibat aktivitas sesar Fossa Sarasina, atau yang dikenal dengan sesar Palu-Koro. Ini menjadikan kawasan di bawah (pesisir) Mamboro daerahnya sedikit lebih rendah, dengan ketinggian air tepat di bawah permukaan.

Hal ini menyebabkan tingginya tingkat kelembaban tanah juga menghasilkan lebih banyak kesuburan. Dirinya bahkan mengibaratkan Mamboro terletak, seolah-olah di sebuah oasis sawah basah dan kebun kelapa.

Adapun di kawasan utara Mamboro, memiliki ketinggian 3-4 m pada jarak tertentu dari pantai. Keadaan tanahnya berpori, yang terdiri dari blok-blok besar granit dan gneiss hingga ½ m³, dengan keadaan kering dan steril. Dataran tetap lebar seluas 3 ¾ km sampai ke kawasan Timur.

Kemudian, Abendanon menjelaskan, bukit yang terletak sedikit ke tenggara Palu di timur Mamboro, memiliki karakter yang kering dan padang pasir. Bagian utaranya terdiri dari beton polos, yang berkembang terutama di sebelah timur Palu dan Mamboro, di kawasan perbukitan yang berhutan.

Kemudian, di antara garis patahan dan garis pantai, dataran rendah dari Mamboro ke wilayah Utara bertambah lebar. Abendanon menjelaskan, fakta bahwa kerak Bumi bagian atas Sulawesi, yang terdiri terutama dari blok dan pecahan yang terus bergerak, tidak mengherankan.

Berdasarkan pengamatannya, hanya dalam beberapa tahun terakhir (1900-an awal), fenomena seismologis Sulawesi Tengah dapat dipublikasikan. Tidak banyak data yang terlestarikan tentang gempa bumi di wilayah Sulawesi Tengah.

Dirinya misalnya menemukan cerita bahwa sekitar 40 tahun yang lalu dari 1909-1910, artinya pada periode 1870-an hingga 1880-an, ada gelombang pasang di Teluk Palu, di mana diamati terjadi di Lero dan Mamboro, pada ketinggian beberapa meter. Gelombang ini menurut cerita tersebut, terjadi akibat penurunan muka tanah di Teluk Palu, yang mengakibatkan gelombang air laut tiba-tiba dari Selat Makassar.

Cerita serupa muncul dari De Heeren de Vogel dan Dibbetz, seorang pejabat urusan pertanian, yang menceritakan kepada Abendanon, kisah-kisah menarik tentang gempa bumi di Donggala. Menurut mereka, berdasarkan laporan dari penduduk desa, terjadi banjir 40 – 50 tahun yang lalu, di Palu, Mamboro dan Lero, di mana tinggi gelombang kurang lebih 7 meter dan di wilayah Donggala sekitar 4 meter. Banjir ini juga diwarnai penyemprotan air tanah berwarna hitam. Ini kata De Heeren de Vogel dan Dibbetz, disebabkan oleh penurunan tanah.

Jika dilihat dengan seksama, apa yang terjadi di periode 1870-an hingga 1880-an di Teluk Palu ini, mirip dengan apa yang terjadi pada 28 September 2018 lalu, di mana tsunami terjadi akbat penurunam muka tanah (longsor) di Teluk Palu. ini membuktikan, bencana tsunami akibat longsor di Teluk Palu, bukan baru pertama kali terjadi. ***

Penulis: Jefrianto.
Disadur dari buku Midden-Celebes-Expeditie: Geologische en Geographische Doorkruisingen van Midden-Celebes (1909-1910)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini