Dilema Nelayan Kampung Lere, Antara Bertahan atau Pergi

0
338

SEORANG pria paruh baya mengenakan kaos polo bergaris dan celana pendek, tampak sibuk menata jala di tiang jemuran dari bambu yang didirikannya. Ada sekitar enam batang jemuran bambu berdiri menyangga jala yang panjangnya belasan meter tersebut.

Sambil menata jala di jemuran, Akbar (53) mengecek ramuan dalam panci yang diletakkan di atas tungku. Buih dan uap menyembul dari dalam panci ketika tutupnya dibuka. Nampak cairan mendidih berwarna merah tua di dalamnya.

Akbar menjelaskan, ramuan tersebut merupakan ramuan akar bakau, yang dalam bahasa Kaili dikenal dengan nama Banggo (Mangrove). Banggo ini kata dia, banyak ditemukan di wilayah semenanjung Banawa, juga kawasan Pantai Timur, Kabupaten Parigi Moutong.

“Akar Banggo ini direbus sampai keluar warna merahnya. Setelah masak, ramuan ini dituang ke dalam perahu, kemudian jala dicelupkan sedikit demi sedikit dalam ramuan tersebut, hingga terkena ramuan seluruhnya,” jelas Akbar.

Menurut Akbar, ramuan akar Banggo ini berguna untuk mewarnai juga memberi beban lebih pada jala, sehingga lebih optimal dipakai untuk menangkap udang kecil, atau dalam bahasa lokal disebut Lamale.

Setelah diwarnai kata dia, warna yang ada bisa bertahan 7-10 hari, kemudian setelah itu dilakukan pewarnaan kembali.

“Paling lambat 10 hari, kami warnai ulang. Banggo yang kami beli berasal dari Lalombi, Kecamatan Banawa Selatan, yang dijual di Buluri.

Sebelum bencana, kami biasa beli Banggo dari penjual yang mengambil di Pantai Timur. Sekarang yang dari Pantai Timur sudah jarang, mungkin sudah dilarang diambil,” ujarnya.

Akbar adalah salah seorang nelayan di pantai Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, yang mampu bertahan dan bangkit pascabencana gempa bumi dan tsunami meluluhlantakkan pantai yang dulunya setiap sore menjadi tempat bersantai warga Kota Palu ini, pada 28 September 2018 lalu.

Rumah Akbar yang terletak di Jalan Tembang, sekitar 200 meter arah selatan pantai, selamat dari amukan tsunami, namun mengalami kerusakan yang lumayan parah, walaupun menurutnya masih dapat dihuni.

Dirinya masih lebih beruntung dari sejumlah nelayan lainnya, yang rumahnya habis tersapu tsunami dan kini harus mendiami hunian sementara yang terletak di Jalan Diponegoro.

Di tempat yang sama Bachtiar (67), sedari tadi memperhatikan tingkah pola Akbar mencelup jala di larutan ramuan yang telah dituangnya di dalam perahu, lalu kemudian dibantu dua nelayan lainnya, menjemur jala yang telah dicelupkan ramuan tersebut.

Sore itu, Bachtiar dan anak laki-laki satu-satunya, Anhar (38), yang juga berprofesi sebagai nelayan, asyik memandangi aktivitas Akbar dan sejumlah nelayan lainnya, sambil menjaga hamparan terpal berisi udang kecil yang dijemur untuk dikeringkan.

“Udang ini ada musimnya, biasanya bulan Juli ini sampai tiga bulan kedepan. Kami turun pagi biasa kalau mau memancing udang. Kalau harga jualnya, satu termos biasa dijual Rp150 ribu. Dalam sehari, biasanya kami dapat sampai Rp300 ribu,” ujar Bachtiar.

Bachtiar dan Anhar adalah satu dari sekian banyak nelayan di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, yang kehilangan tempat tinggal, akibat diterjang tsunami yang meluluhlantakkan pesisir Teluk Palu, 28 September 2018 lalu. Akibat bencana tersebut, Bachtiar harus kehilangan istrinya, yang juga ibunda Anhar.

Saat ini, Bachtiar dan Anhar bergabung bersama 200-an penyintas lainnya yang menghuni huntara yang terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, atau sekitar 500 meter dari pantai.

Ketika ditanyakan tentang kepastian relokasi ke hunian tetap, Bachtiar tersenyum getir. Dirinya menyebut lokasi huntap Tondo, sebagai lokasi yang mungkin menjadi tujuan relokasi dirinya bersama 205 penghuni huntara tersebut.

Ayah lima anak ini mengakui, sejatinya dirinya dan sejumlah nelayan lainnya, merasa berat jika harus direlokasi ke Tondo. Lokasi huntap yang jauh dari pantai, belum lagi kenyataan soal sulitnya akses air bersih dan ketakutan akan tidak menentunya jaminan hidup yang diterima, menjadi pertimbangan Bachtiar untuk memilih tidak pindah.

“Kalau bisa, kami meminta pemerintah agar dicarikan lokasi yang dekat dengan tempat kami mencari nafkah di pantai ini. Pindah ke lokasi yang jauh dari pantai, cukup menyulitkan kami untuk menyambung hidup, terlebih kami tidak ingin terus tergantung dengan bantuan,” ujarnya.

Wacana pembangunan tanggul penahan tsunami di Teluk Palu yang digulirkan oleh Pemerintah Provinsi Sulteng bersama Kementerian PUPR dengan sokongan dana hibah dari Japan International Cooperative Agency (JICA), juga telah diketahui oleh Bachtiar, Akbar, Anhar, maupun nelayan lainnya di lokasi tersebut.

Ketiganya mengaku, sejatinya menolak rencana pembangunan tanggul tersebut, karena akan mematikan mata pencaharian mereka.

“Semoga pembangunan tanggul ini, ada lokasi yang disiapkan untuk tempat sandar perahu kami,” ujar Akbar.

Bachtiar yang menggantungkan hidup dari hasil melaut mengatakan, dirinya sebenarnya menolak rencana pembangunan tanggul penahan tsunami ini.

Namun, dirinya juga merasa kasihan dengan warga yang rumahnya tidak terdampak tsunami tapi harus terkena dampak banjir akibat pasangnya air laut, yang masuk hingga ke pemukiman mereka, akibat tidak adanya tanggul.
“Mau bagaimana lagi, kami juga kasihan dengan mereka. Di satu sisi, kami juga berpotensi direlokasi, karena tidak dibolehkan lagi membangun di bekas rumah kami, yang katanya saat ini masuk dalam zona merah,” ujarnya.

Sementara itu, Anhar, mempertanyakan soal zonasi yang dilakukan oleh pemerintah. Menurutnya, zonasi ini hanya menguntungkan sebagian kalangan saja, bukan menguntungkan masyarakat. Jika memang harus pindah nanti, jika masa tinggal di huntara sudah selesai, pihaknya berharap mendapat lokasi relokasi yang tidak jauh dari pantai.

“Kalau jauh dari pantai, apa gunanya kami diberi bantuan perahu ini, apalagi nanti kalau ada tanggul, tambah susah kami melaut,” ujarnya gelisah. ***

Penulis : Jefrianto
Foto : Jefri/MS
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini