Di Huntara I Dusun I Desa Beka, 20 Anak Kekurangan Gizi

0
627
SAMPAIKAN KELUHAN – Para penyintas dari dua desa di Kabupaten Sigi dan dua kelurahan di Kota Palu, menyampaikan keluhan terkait kondisi penyintas di wilayahnya, pada Diskusi Regular Perempuan Pemimpin, yang dilaksanakan oleh Yayasan Sikola Mombine, bekerjasama dengan Kemitraan untuk Tata Kelola Pemerintahan yang Baik, belum lama ini. FOTO: DOK SIKOLA MOMBINE

PALU – Dialog antarpenyintas yang diinisasi Sokola Mombine bersama 25 pemimpin perempuan di Desa Lolu dan Desa Beka – Kabupaten Sigi menguak  fakta menyedihkan. Terdapat 20 anak pengungsi di Desa Beka menderita kekurangan gizi.

Mereka adalah korban gempa di Desa Beka dan kini tinggal di hunian sementara (huntara) I  Dusun I Desa Beka, Kecamatan Marawalo – Kabupaten Sigi. Rata rata anak anak ini  berusia 1,3 tahun. Anak-anak yang kekurangan gizi ini saat gempa berusia 1 tahun dan bahkan ada yang baru lahir setelah gempa terjadi.

Terkuaknya fakta  di hunian pengungsi disampaikan oleh Lies, salah satu pendamping anak Sikola Mombina pada diskusi yang berlangsung di Palu, pekan lalu. Menurut Lies,  pihaknya meminta agar kasus gizi buruk ini menjadi perhatian pemerintah sebelum jumlah anak bertambah atau mengancam masa depan anak-anak ini.

Irma Pendamping Lapangan Sikola Mombina  mengatakan, dari 20 kasus kekurangan gizi yang dialami anak-anak di huntara 1 Desa Beka, hanya empat anak yang bisa diintervensi pemerintah melalui program makanan pendamping dari Posyandu setempat. Sisanya sebanyak 16 anak belum bisa tertangani dan ancaman terhadap tumbuh kembang anak-anak itu belum menemukan jalan keluarnya.

‘’Kami meminta pemerintah Kabupaten Sigi, khususnya Dinas Kesehatan dan OPD terkait, turun langsung untuk meninjau ke Desa Beka, karena ada 20 anak yang kekurangan gizi. Sama halnya demikian jadup, yang sampai saat ini belum ada di Desa Beka,“  Curhat Lies di forum dialog antarpenyintas itu.

Mereka menyuarakan pemulihan ekonomi di lingkungan Huntara di Desa Beka  tak kunjung membaik. Banyaknya penghuni huntara yang kehilangan pekerjaan, terutama para petani yang sudah tidak mengolah lahannya, karena rusak, dan tidak adanya air yang mengairi sawahnya.

Suara lainnya datang dari penyintas di Mamboro. Lia penyintas di Huntara OJK Mamboro mengatakan, saat ini mereka membutuhkan air bersih. Air bersih yang disuplai relawan tidak memenuhi kebutuhan konsumsi mereka. Di satu sisi untuk pengadaan air bersih secara permanen, sumur suntik atau pompa air, mereka tidak mempunyai uang yang memadai.

Menurut dia, 1 mobil tangki air bersih yang didatangkan oleh pemerintah, hanya dapat memenuhi beberapa kepala keluarga  di huntara tersebut. Selanjutnya di Kelurahan Buluri, para penyintas dari huntara pemerintah, meminta tindakkan cepat dari Pemerintah Kota Palu dan BNN, untuk menyikapi para pengedar narkoba di Kelurahan Buluri, karena tingkat pecandu narkoba meningkat, bahkan anak-anak dari para penyintas di huntara pemerintah dan non pemerintah menjadi korban, terutama anak-anak remaja yang duduk di bangku SMP.

“Kami meminta komitmen, harus ada tindakan dari BNN untuk memberantas peredaran narkoba ini,”ujar Asria penyintas asal Buluri.

Selain narkoba, kehadiran tambang galian C juga meresahkan penyintas di huntara Buluri. Banyaknya perusahaan tambang galian C, menurut Bidaya, salah seorang penyintas di Buluri, membuat potensi penyakit ISPA meningkat. ***

Penulis: Jefrianto
Editor: Yardin Hasan

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini