Di Balik Langkanya Air di Huntara

0
623

Ketersediaan air bersih menjadi sarana-prasarana yang harus tersedia di hunian sementara. Namun mengapa para penyintas masih mengeluhkan langkanya air bersih di huntara mereka? Wartawan Kabar Sulteng Bangkit Ikram, menelusuri penyebabnya.

PALU — Hari-hari Nurmiati, penyintas di Huntara Silae, kembali direpotkan urusan air bersih. Sebab sudah sepekan ini, air di tandon huntaranya kosong melompong.

Terpaksa, sebelum matahari terbit, dengan membawa dua jirigen, ia bersama suaminya mengendarai motor ke salah satu masjid di Jalan Trans Sulawesi, berjarak 1,5 kilometer dari biliknya.

Di masjid itu ia mengambil air hingga dua jirigennya penuh. Setelah itu, ia kembali ke huntara. Dengan air yang terbatas, Nurmiati harus memutar otak membaginya untuk memasak, mandi, dan mencukupi air minum bagi suami dan dua anaknya.

Kalaupun kurang, Nurmiati akan kembali menuju masjid. Sehari ia bisa bolak-balik lebih dari dua kali. “Waktu tersita untuk urus air,” keluhnya.

Tak jarang demi berhemat, air sisa mandi dipakai untuk mencuci pakaian.

Bukan sepekan ini saja air di Huntara Silae kosong. Penyintas lainnya, Syamso, 70 tahun, bercerita, sulitnya mendapat air sudah menjadi cerita sehari-hari warga. “Air memang sering kosong 3-4 hari. Tapi kali ini lebih parah, sudah satu minggu,” katanya.

Air di Huntara Silae dipasok oleh PDAM melalui jaringan pipa. Saat kondisi normal, Huntara Silae mendapat 2 ribu liter air yang ditampung dalam 20 tandon air. Setiap blok kebagian dua tandon atau 200 liter untuk mencukupi kebutuhan air 12 keluarga.

Total, ada 120 keluarga yang menghuni huntara yang diresmikan Desember 2018 lalu.

Saat masa gawat darurat, pengisian air ke Huntara Silae sepenuhnya dilakukan dengan empat mobil tangki. Dua tanki berasal dari PDAM dan dua sisanya dari lembaga kemanusiaan.

Namun dengan berakhirnya masa tanggap darurat pada 24 April 2019, banyak lembaga kemanusiaan yang menghentikan bantuan air.

Di saat inilah krisis air mulai mendera. Mus, warga lainnya bercerita, jaringan PDAM ke huntaranya sering mampet. “Baru menyala setelah ditelpon dulu atau ada yang memposting di medsos facebook, ” keluhnya.

Di Huntara Mamboro, lain cerita. Jaringan pipa yang dipasang pemerintah memang mengalirkan air untuk 240 keluarga yang tinggal di dalamnya. Tetapi airnya keruh, tak bisa dikonsumsi. “Kadang-kadang bercampur tanah,” kata Hasmiati, 33 tahun.

Untuk keperluan mencuci pakaian dan peralatan dapur, Hasmiati bercerita, warga harus mengendapkan air tersebut selama beberapa jam.

Sedangkan untuk memasak dan minum, ia terpaksa membeli air kemasan seharga Rp 5 ribu per galon. Dalam sebulan, Hasmiati membeli 15 galon dengan total pengeluaran Rp 75 ribu.

Hal yang sama dikatakan Robert, 43 tahun. Ia menghabiskan 16 galon dalam satu bulan dengan total uang yang ia rogoh dari kocek sebesar Rp 80 ribu.

Terkendala Sumber Air
Penyediaan air bersih dalam masa pascabencana, salah satunya di atur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 1357 / Menkes /SK / XII / 2001 Tentang Standar Minimal Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana dan Penanganan Pengungsi.

Sesuai SK Menkes itu kersediaan air harus cukup untuk memberi sedikit–dikitnya 15 liter per orang per hari.

Distribusi air bersih dan urusan sanitasi pascabencana di Sulteng, dikordinasi dalam Sub-Klaster Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (WASH). Selain berisi unsur pemerintah pusat dan pemerintah daerah, Sub-Klaster Wash berisi sejumlah lembaga kemanusian.

Selama masa tanggap darurat, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki air (MTA). Dalam Laporan Mingguan Wash Sub-Klaster per 10 November 2018, ada 39 truk yang beroperasi dalam pendistribusian air bersih yang dilakukan oleh JMK OXFAM, Wahana Visi Indonesia, CWS, Palang Merah Indonesia (PMI), Yayasan Sayangi Tunas Cilik-PDAM, Aksi Cepat Tanggap (ACT), serta beberapa lembaga lain. Dari lembaga-lembaga ini, jumlah armada dari PMI paling banyak yakni 16 unit.

Total volume yang didistribusikan saat itu lebih 624.000 liter/hari. Sedangkan pada bulan Oktober didistribusikan sebanyak 820.000 liter air/hari.

Pada masa Rehabilitasi dan Rekontruksi, sarana air bersih seharusnya menjadi satu paket yang harus tersedia dalam pembangunan hunian sementara. Dalam standar desain huntara yang dikeluarkan Kementerian PUPR, kebutuhan air bersih direncanakan bisa memenuhi minimal 1500 liter per lokasi setiap hari.

Pemenuhan sarana air bersih di huntara itu dilakukan dengan dua cara, membuat sumur bor dan memakai jaringan air PDAM.

Berdasarkan Laporan Progress Huntara yang dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat per 10 Februari 2019, sumur bor baru tersedia masing-masing 15 lokasi huntara di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, dari 72 lokasi huntara.�

Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sulawesi Tengah, Kementerian PUPR, Ferdi Kana Lo, mengatakan, hingga akhir Juli 2019, jaringan air telah terlayani di 47 lokasi dari total 72 huntara. Sedangkan sisanya yang belum terlayani berada di 25 lokasi yang tersebar di Palu, Sigi dan Donggala. “Proses pengeboran masih berlangsung,” kata Ferdi.

Lokasi-lokasi yang belum tersambung dengan jaringan air di antaranya Kelurahan Duyu (1 lokasi), Kelurahan Kabonga Besar ( 2 lokasi), Kelurahan Gunung Bale (1 lokasi), Kelurahan Kabonga Kecil ( 1 lokasi), Desa Boneoge (1 lokasi), Desa Kola-kola ( 1 lokasi), Desa Limboro ( 1 lokasi), Desa Binangga (1 lokasi), Desa Beka (2 lokasi), Dolo Barat (1 lokasi).

Selanjutnya, Desa Beka ( 2 lokasi), Desa Bangga ( 1 lokasi), Desa Balongga (1 lokasi), Desa Wisolo (1 lokasi), Desa Kaleke ( 1 lokasi), Desa Mantikole (1 lokasi), Desa Labuan Panimba ( 1 lokasi), Desa Labuan Taposo ( 1 lokasi), Desa Tibo ( 1 lokasi), Kelurahan Tondo ( 2 lokasi), Tanjung Padang (1 lokasi), Lende ( 1 lokasi), Tibo (1 lokasi) dan Desa Tompe ( 2 lokasi).

Menurut dia, ada berbagai kendala untuk menyelesaikan pengeboran, seperti mesin pengeboran rusak, atau air sumur kering. Mencari sumber air di Kota Palu, kata dia, bukan perkara mudah. Sebab meski sudah melalui studi kelayakan dengan geolistrik, ternyata setelah dibor, air belum tentu ada.

Alasan teknis lain, seperti mata bor terjepit karena tanahnya mengandung bebatuan. Seperti yang terjadi di proyek sumur bor di bagian atas Huntara Silae.

“Mata bornya terjepit pada pengeboran pertama, tidak dapat dicabut lagi. Makanya sekarang pindah ke titik yang tekstur tanahnya lebik lunak,” kata dia.

Untuk sementara, bagi lokasi huntara yang jaringan airnya belum tersambung, Balai memasok air menggunakan 6 mobil tangki. Air untuk tangki tersebut dibeli dari PDAM seharga Rp 150 ribu per tangkinya.

Namun kendalanya, belum seluruh huntara memiliki kordinator bagian air untuk melaporkan apabila layanan airnya mati. “Padahal bila ada masalah air di huntara, bisa langsung menghubungi kami di nomor kontak 0813 3843 3101, ” katanya.

Meski begitu, Ferdi mengakui, layanan air di 47 lokasi huntara yang telah tersambung dengan jaringan sumur bor dan PDAM terkadang tidak lancar. Penyebabnya, ada kerusakan di bagian mesin pompa atau solar cell yang mati. Khusus untuk Huntara Mamboro yang airnya keruh, Ferdi berjanji akan mengecek dan memperbaiki.

“Apabila layanan air menurun, kami tetap bisa kirim dengan mobil tangki, tinggal laporkan kepada kami,” kata Ferdi.

Sedangkan Kepala Bagian Teknik PDAM Donggala, Rizal, mengakui distribusi air ke huntara tersendat karena sumber airnya mengecil di musim kemarau. “Semoga dengan hujan, debit airnya bertambah kembali,” kata dia.

Selain kemarau, bencana gempa 28 September 2018 juga menyebabkan 5 dari 17 sumur dalam yang menjadi sumber air PDAM tidak bisa berfungsi. Lima sumur itu yakni di Kelurahan Silae, Lasoani 2, Lasoani 4, Pengawu, dan Watutela.

Rizal menjelaskan, saat ini PDAM sudah memperbaiki sumur dalam di Pengawu. Sedangkan di Lasoani 2 dan Watulela, PDAM melakukan pengeboran ulang di titik yang baru.

Tersendatnya pasokan air, kata Rizal, tidak saja menimpa di huntara, melainkan juga seluruh pelanggan PDAM di Donggala, Kota Palu dan Sigi. Oleh karena itu, pengisian air ke huntara-huntara dilakukan secara bergiliran dengan jadwal tertentu. Inilah yang membuat pasokan air ke huntara terkadang tersendat.

“Sebab kami tidak saja melayani di huntara, tapi juga pelanggan rumah tangga umum lainnya,” kata Rizal, Selasa 23 Juli 2019.

PDAM sedang menjajaki kerja sama dengan Jaringan Mitra Kemanusiaan OXFAM untuk membuat sumur dalam, sebagai pengganti sumur yang tidak aktif.

Sementara, JMK OXFAM membantu jaringan air ke huntara kelurahan Duyu, Kelurahan Petobo, Desa Mpanau, dan Desa Pombewe. “Sebab biaya operasional mengunakan tangki itu mahal. Makanya kami memutuskan untuk melakukan pipanisasi ke sumber-sumber air,” kata Humanitarian Operation Head OXFAM, Dino Argianto.

Menurutnya, JMK OXFAM menggunakan 20 sistem air yang akan dialirkan ke huntara dan ke masyarakat lain yang terdampak. Saat ini baru Sibalaya Selatan yang telah terkoneksi dengan jaringan pipa. Sedangkan sisanya telah berjalan 70-90 persen.

“Kami upayakan Agustus semua sudah menikmati airnya,” kata dia.

Tantangan berikutnya, kata dia, penyintas tidak hanya membutuhkan air untuk konsumsi melainkan juga untuk mengairi lahan pertanian dan ternak. Sebab saluran irigasi yang rusak karena gempa dan likuifaksi, saat ini belum pulih sepenuhnya.

Padahal, pemulihan sektor pertanian juga berkaitan erat dengan pemulihan ekonomi para penyintas pascabencana.

“Ini jadi tantangan bagi pemangku kebijakan dan NGO agar berpikir jangka panjang untuk memenuhi air bagi pemulihan ekonomi petani, ” katanya.

Salah satu hal yang bisa dilakukan, kata dia, adalah mencari sumber-sumber air baru. Meski membutuhkan biaya mahal di awal, tapi hasilnya bisa dimanfaatkan untuk jangka panjang.[]

Data huntara yang terlayani sumur bor dan PDAM:

1. Kota Palu: Kelurahan Tatura Selatan, Kelurahan Pengawu, Kelurahan Palupi, Kelurahan Donggala Kodi, Kelurahan kabonena, Kelurahan Silae, Kelurahan Tipo, Kelurahan Buluri, Kelurahan Pantoloan, Kelurahan Panau, Kelurahan lambara, Kelurahan Taipa, Kelurahan Mamboro, Kelurahan Kayumalue Pajeko, Kelurahan kayumalue Ngapa, Kelurahan Tondo, dan Kelurahan Petobo.

2. Kabupaten Donggala: yakni Desa Loli, Desa Labuan, Desa Tibo, Desa Balentuma, Desa Sibado , Desa Lende, dan Desa Tompe.

3. Kabupaten Sigi: di Desa Loru, Desa Ngatabaru, Desa Bora, Desa Karawana, Desa Bolapapu, Desa Padende, Desa Beka, Desa Walatana, Desa Baluase, Desa Pulu, Desa Poi, Desa Rarampadende, Desa Bobo, Desa Pesaku, Desa Kamarora B, dan Kelurahan Mpanau.

Reporter : Ikram
Editor : Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini