Derita Pengungsi di Tengah Pandemi, Memulung Demi Menyambung Hidup

0
374
FOTO : IST MEMULUNG - Perempuan di huntara Talise Palu bersama anak-anak mereka terpaksa menjadi pemulung untuk bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, ditengah pandemic covid-19.

PALU – Juwirna (37) mengaku sudah dua pekan terpaksa memulung karena stok bahan makanan sudah habis. Sedangkan sang suami, yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh harian lepas, tidak bisa mencari nafkah bagi keluarganya di tengah wabah virus corona.

Tempat suami Juwirna biasa bekerja menghentikan sementara pekerjaan karena adanya pembatasan jumlah pekerja selama pandemi masih ada.

Juwirna salah satu korban bencana Palu yang terjadi 28 September 2018 lalu, tak bisa berbuat banyak untuk membantu suami memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sampai saat ini Juwirna bersama keluarga masih tinggal di Hunian Sementara (Huntara) Talise, Palu Timur.

Meskipun pemerintah menganjurkan untuk tetap dirumah, Juwirna terpaksa memilih keluar rumah untuk mengumpulkan sampah yang bisa dijadikan uang.

Jika mulai memulung pagi hari, Juwirna bisa mengumpulkan botol dan gelas plastik minuman bekas sebanyak 6 Kg sehari. Sementara harga jual gelas maupun botol plastik minuman sebesar Rp 2500 per kg, artinya dalam sehari hanya bisa mendapatkan uang Rp15.000.

“Kalau saya jalan dari pagi, saya bisa dapat 6 kg. Biasa juga saya dapat hanya 1-2 kg dalam sehari,” kata Juwirah.

Juwirah bersama pengungsi lain tak bisa berharap banyak kepada pemerintah untuk bisa membantu memenuhi kebutuhanhidup mereka. Hingga saat ini jatah hidup (Jadup) pengungsi yang masih tinggal di Huntara tak kunjung ada kejelasan, padahal sudah satu tahun lebih mereka di janjikan oleh pemerintah.

“keluarga saya tidak punya pemasukan gara-gara corona ini. Tempat kerja ditutup, kami dilarang keluar, kalau sudah begini siapa yang bisa bantu kami pengungsi di Huntara,” kata Juwirah.

Hal yang sama dialami Hamsia (57), pengungsi di huntara Mamboro. Suaminya yang merupakan kuli bangunan di Kampus Universitas Tadulako (Untad) Palu, tidak bisa lagi bekerja karenasebagian proses pekerjaan bangunan di kampus dihentikan.

“Kami diminta untuk tidak kemana-mana. Suami sudah tidak kerja, jadup pemerintah tidak jelas. Kalau tidak ada yang peduli, kami bisa mati kelaparan bukan mati karena corona,” kata Hamsia.

Hamsia bersama ibu-ibu penyintas lain di huntara Mamboro, seringkali mencari tumbuh-tumbuhan disekitar huntara yang bisa di jadikan sayur untuk makan sehari-hari.Tanaman kelor yang menjadi primadona pengungsi dikala mereka kesulitan untuk membeli sayuran karena tidak memiliki uang.

“Pohon kelor banyak disekitaran Mamboro. Buah dan daunnya biasa kami ambil, direbus dan dimakan bersama nasi. Biasanya kami ibu-ibu masak bersama, sehingga semua bisa kebagian,” ujarnya.

Hamsia juga mengaku bahwa ada beberapa dermawan yang datang membawakan sembako untuk memenuhi kebutuhan makan mereka untuk beberapa hari kedepan.Hamsia dan penyintas lainnya merasa bersyukur masih ada yang peduli dengan kondisi pengungsi ditengah pandemi covid-19.

“Kami juga pernah di bantu sembako dari dermawan. Mereka sangat peduli dengan kondisi kami di huntara. Tapi harus sampai kapan kami terus berharap kepada dermawan itu, sementara pemerintah tidak pernah peduli dengan jadup kami,” kata dia.

Hamisa bercerita, dia sempat berkeluh kesah kepada Kepala Dinas Sosial kota Palu. Dia bercerita kalau tidak memiliki beras dan persediaan lainnya. Oleh Kepala Dinas sosial kota Palu, Hamsia kemudian diminta menghubungi Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

Sayangnya setelelah Hamisa dan beberapa penyintas mendatangi kantor dinas sosial provinsi Sulteng untuk menanyakan bantuan, pegawai dinas mengatakan bahwa bantuan sembako hanya untuk masyarakay yang terdampak langsung covid-19. Seperti mereka yang dinyatakan sebagai Orang dalam Pengawasan (ODP), Pasien dalam Pengawasan (PDP), dan orang yang terkonfirmasi positif covid-10, bukan untuk pengungsi di huntara.

Menurut pegawai dinas, sembako dan bantuan lainnya akan diberikan, jika kota Palu sudah ada Pembatasan Sosial ber Skala Besar (PSBB).

“Kami penyintas hanya bisa pasrah dengan kondisi saat ini dan berharap pemerintah bisa peduli dengan kami,” ujarnya.

Penulis : Elni & Nerlan (Jurnalis Warga)
Editor : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini