Denisa, Bocah yang Memulihkan Ekonomi Keluarga

0
155

PALU — Gadis itu bernama Denisa Amanda. Usianya baru 14 tahun. Ia adalah contoh dari seorang bocah penyintas yang berupaya memulihkan ekonomi keluarganya setelah bencana melanda 28 September lalu.

Denisa berasal dari Dusun Ova, Kelurahan Pantoloan, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu. Di tempatnya itu, ada sekitar 300 kepala keluarga yang menjadi korban tsunami. Rumah mereka tak bersisa.

Saat itu, Denisa, ibunya dan seorang adik laki-lakinya sedang asyik di teras rumah. Tiba-tiba gempa dengan magnitudo 7,4 skala richter melanda Sulawesi Tengah. Tsunami datang menerjang perkampungan dekat Pelabuhan Pantoloan itu.

Bersama warga lainnya, Denisa bersama ibu dan adiknya lari menyelamatkan diri. Mereka berlari hanya dengan pakaian di badan.

Mereka memilih tempat mengungsi yang terpisah dengan tetangga dan warga Pantoloan lainnya. Makan seadanya, karena saat itu bantuan belum merata. Beberapa hari setelahnya, Denisa bersama warga lain terkumpul dalam satu kamp pengungsi di Dusun Ova.

Di pengungsian yang terkonsentrasi itu, kebutuhan makanan akhirnya mencukupi. Meski hanya tidur di tenda yang dibuat sendiri dari terpal, tetapi ada dapur umum yang bisa memenuhi makan tiga kali sehari.

Tetapi siswi kelas 9 SMP Negeri 17 Palu tidak mau berdiam diri. Denisa harus mencari uang untuk menutupi segala kebutuhannya, apalagi sekolah sudah mulai berjalan.

Maka, bantuan uang yang tak besar dari beberapa orang yang bersimpati, digunakan untuk membelanjakan beberapa makanan dan minuman ringan yang kemudian dijualnya kembali. Jadilah kios kecil di depan tenda terpalnya itu.

“Sudah dua lebih dua bulan ini saya jualan, Om. Memang sebelumnya mama juga punya kios,” kata Denisa Amanda.

Akhirnya, dalam sehari ia bisa berjualan minuman dingin seperti jasjus, pop ice dan lain-lainnya. Omzetnya per hari bisa mencapai hingga Rp30 ribu. Pembelinya tidak hanya sesama pengungsi, tetapi juga para relawan yang datang ke tempat itu.

Denisa Amanda mengakui, mereka tak punya tempat tinggal lagi, tetapi tak boleh lagi bersedih. Dia harus terus berjualan, karena ia juga akan terus sekolah.

Memang, Denisa Amanda dan juga anak-anak lain korban tsunami dan likuefaksi, adalah mereka yang paling menderita saat ini. Tetapi mereka tak ingin menyerah. Usai masa transisi tanggap darurat, bantuan sembako juga kemungkinan akan berkurang, karena akan banyak yang fokus pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi.

Mau tidak mau, mereka harus mencari uang sendiri untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Berjualan makanan dan minuman ringan, menjadi salah satu pilihan bagi Denisa Amanda. Padahal, seharusnya anak seusia Denisa Amanda belum layak untuk mencari uang sendiri.

“Saya sudah terbiasa, Om. Kebiasaan setiap hari sepulang sekolah, harus bekerja untuk membantu mama, karena papa sudah tidak tau ada di mana,” ujarnya. Sejak kecil, ia telah terbiasa hidup tanpa ayah, karena kedua orang tuanya telah berpisah sejak lama.

Koordinator pengungsi di Dusun Ova. Abdul Kadir Samauna, mengatakan, rumah seluruh warga habis diterjang tsunami. “Akan tetapi warga tetap semangat untuk bangkit,” kata Abdul Kadir Samauna yang juga anggota DPRD Kota Palu itu.

Di tenda pengungsian itu, ada seorang anak perempuan berusia 14 tahun, namanya Denisa Amanda. Ia adalah siswi kelas 9 SMP Negeri 17 Palu.[]

Penulis: Ochan Sangadji
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini