Dana Stimulan, Sengkarut yang Tak Kunjung Usai

0
191
MENUNTUT HAK - Sejumlah warga desa di Kabupaten Donggala menuntut hak-hak mereka, dua tahun terabaikan, Senin 28 September 2020. (f-yardin)

NURJANA (41) tak mampu lagi membendung emosi. Matanya memerah. Suaranya parau. Sepanjang jalan ia terus berteriak, memprotes pencairan dana stimulan yang tak kunjung rampung.

”Kami tidak takut Covid. Kami lebih takut hak kami hilang”

”Boikot pilkada. Tidak ada Pilkada kalau hak kami tidak dipenuhi”.

Teriakan Nurjana terdengar melengking bersamaan suara lantunan surat Al-Isra 16, ayat yang berkisah perilaku elit yang berbuat kezaliman kepada rakyatnya.

Nurjana dan keluarganya, kini tinggal di huntara Jalan Gunung Bale yang lantai-lantainya mulai jebol. Dindingnya mulai retak. Sementara hunian tetap yang ditunggu tunggu tak kunjung ada. Dana stimulan untuk memperbaiki rumah tak kunjung cair. Berkali didata. Berkali didatangi. Ditanya-tanya plus seabrek tumpukan berkas adminsistrasi sebagai syarat pencairan sudah diberikan ke petugas. Namun dana yang dijanjikan tak kunjung muncul di rekening warga penerima.

Nurjana tidak sendiri. Rekannya Agustina (45) dari Desa Loli Saluran – Banawa Selatan, juga mengajukan protes serupa. Ia mengaku hunian sementara yang ditinggalinya di Loli mulai rusak. Karenanya sebelum kondisinya rusak parah, ia dan kawan-kawanya berinisiatif mendatangi DPRD Sulteng mengadukan nasib yang dialaminya. ”Pokoknya tidak ada pilkada. Tidur saja tidak usah mencoblos,” geramnya. Agustina mengaku, rumahnya yang rusak berat semestinya memperoleh santunan sebesar Rp50 juta. ”Entah kenapa, uangnya tidak cair-cair. Padahal Kota Palu dan Sigi dananya sudah cair,” tanya Agustina heran, Senin 28 September 2020.

Amir Husin – warga penyintas dari Labuan Bajo, mengaku heran. Pasalnya, keluarganya korban gempa di Palu sudah selesai merehabilitasi rumahnya. ”Artinya uangnya sudah ada. Kan sumber uangnya sama dari pemerintah pusat,” ujarnya tak kalah heran.

Bertepatan dengan dua tahun gempa, tsunami dan liquefaksi, mereka mengingatkan pemerintah untuk memenuhi janji untuk menyediakan hunian tetap dan dana stimulan.

Suara protes dari sebagian warga Donggala menurut, Amir mengindikasikan penyelesaian hak hak penyintas di Kabupaten Donggala yang berantakan.

Penelusuran Kabar Sulteng Bangkit di sejumlah desa di Kecamatan Toaya juga menemukan situasi yang sama.

MENUNTUT HAK – Sejumlah warga desa di Kabupaten Donggala menuntut hak-hak mereka, dua tahun terabaikan, Senin 28 September 2020. (f-yardin)

CAPEK DIJANJI, WARGA MULAI PASRAH

”Dapat syukur kalau tidak dapat mau diapa,” demikian rata-rata pernyataan warga yang ditanyai soal dana stimulan di wilayah Kecamatan Toaya. Salah satunya dikemukakan Isran, penerima dana stimulan asal Desa Toaya Vunta, Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala, Rabu 9 September lalu.

Pernyataan Isran (51) mengindikasikan persoalan dana stimulan di daerah itu yang ruwet. Kepada Kabar Sulteng Bangkit ia mengaku, mengurus dana stimulan tak hanya menyita tenaga dan waktu. Namun menguras pikiran dan perasaan. Padahal, syarat administrasi yang dibutuhkan sudah di tangan otoritas setempat. Dan disetor sejak lama. Isran yang rumahnya rusak sedang bakal menerima Rp25 juta.

Sayang dana yang diharapkan tersebut tak kunjung cair. Data-data administrasi mulai seperti KTP, kartu keluarga (KK) hak kepemilikan atau sertifikat tanah, yang diurus secara berjenjang sudah dipenuhi. ”Pengumpulan data ini tidak hanya sekali. Tapi berkali kali,” katanya.

Isran melanjutkan, kerunyaman ini sudah terasa sejak awal. Saat pendataan, rumah ayah tiga anak ini masuk katagori rusak berat. Namun ia mengalihkannya menjadi rusak sedang. Sebab dengan status rusak berat, bangunan rumahnya harus dirobohkan. Sementara untuk membangun rumah baru dengan biaya Rp50 juta menurutnya tidak cukup.

Hal senada juga disampaikan oleh Risma warga Toaya Vunta lainnya. Semua data administrasi sudah dipenuhi. Namun dana yang dijanjikan tak kunjung cair.

Kolega Risma yang sama-sama berasal dari Desa Toaya Vunta Lisman (41), pun mengeluhkan hal serupa. Didata rusak berat. Padahal mestinya hanya rusak sedang. ”Saya tahu diri rumah saya tidak seperti itu, saya komplain,” akunya. ”Ya semua warga di sini mengeluh pencairannya lamban sekali, sementara semua syaratnya telah dipenuhi,” kata Alhajrin, warga Toaya Vunta lainnya, dihubungi Kamis 10 September lalu.

Dari data yang dikumpulkan dari beberapa sumber di lapangan, didua desa yakni, Desa Marana dan Toaya Vunta ada sekitar 180 Kepala Keluarga penerima dana stimulan. Dari 180 KK itu, baru sekitar 12 KK yang dicairkan. Selebihnya hingga saat ini menunggu.

Beberapa warga mengaku sejauh ini belum diketahui waktu pencairan. Itu artinya, perbaikan rumah korban gempa belum bisa dilakukan. Beberapa pendamping yang dimintai pendapat soal pencairan menolak memberi keterangan.

Namun dari sejumlah sumber di lapangan diperoleh, para pendamping bertugas untuk membuat rencana anggaran biaya (RAB) warga penerima sekaligus mengawal pencairannya dan membuat laporan pertanggungjawaban. Mereka dikontrak selama 5 bulan. Tugas mereka bakal berakhir di pengujung September. Sementara, warga dampingan belum mendapatkan hak-haknya.

”Ini nanti bagaimana. Pendamping kan berakhir masa kontraknya September ini. Tapi dana belum cair, rumah juga belum diperbaiki. Bagaimana nanti kami bikin pertanggungjawabannya,” curhat salah satu warga di Desa Marana.

Salah satu warga mengaku, ia pernah bicara dengan pendamping, honor mereka tersendat. Sejak teken kontrak, baru honor April – Juli yang diterima. Sedangkan honor Agustus hingga memasuki akhir September belum kunjung diterima. Beberapa pendamping yang dikonfirmasi soal klaim warga ini, tidak membenarkan namun juga tidak membantahnya.

Kabar Sulteng Bangkit memperoleh informasi dari penyintas di sejumlah desa yang terdampak di sejumlah wilayah di Donggala. Mereka nyaris patah hati dalam penantian janji yang tak kunjung ditepati. Hingga akhirnya warga mengambil jalannya sendiri. Boikot Pilkada atau tepati janji. ***

Penulis : Ikram
Editor   : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini