Curhat Asnawati Pengungsi di Donggala yang Mendambakan Huntara

0
100

JIKA ada yang menginginkan ujian kesabaran, maka jadilah pengungsi. Di sinilah ujian kesabaran itu. Dimana hampir semua keperluan dasar nyaris kurang. Pernyataan Ini disampaikan oleh Asnawati (53) pengungsi asal Tanjung Batu – Banawa, Donggala yang mendiami tenda di halaman kantor DPRD Kabupaten Donggala.

Asnawati melanjutkan, pada siang hari suasana dalam tenda sangat panas dan gerah. Bahkan untuk salat dzuhur pun, kadang harus dijamak dengan salat ashar karena panas yang tak tertahankan. Sebaliknya jika malam hari dingin terasa menusuk-nusuk.

Saat hujan kami kadang keluar tenda. Anak-anak saja yang berteduh. Orang dewasa menggali parit, mengalirkan air agar tidak merembes ke dalam tenda. Saat angin datang, tenda bertumbangan. Pasak kecil yang ditanam sejengkal tak mampu menahan kuatnya angin. Dan itu telah berlangsung sejak enam bulan lalu. Sampai hari ini.

Asnawati mengaku, di kawasan yang kini ditempatinya, lima tenda yang terletak berdampingan adalah anak cucunya. Totalnya 25 orang. Ia mengaku tidak mau berpisah dengan anak-anaknya. Saat peristiwa naas itu, mereka selalu bersama-sama. ”Tidak boleh tendanya berjauhan. Kalau susah biarlah susah bersama. Asalkan mereka semua dekat dengan saya,” katanya.

Sejak tiga bulan lalu, bantuan logistik sudah tidak ada. Praktis ia harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan 8 orang di dalam tendanya. Termasuk seorang kakaknya dan beberapa orang anggota keluarga yang memilih bersamanya di dalam tenda. Keluarganya aku Asnawati tidak lagi punya mata pencaharian. Perahu yang dulu dimiliki suaminya untuk melaut rusak dihempas tsunami.

Akhirnya, suaminya yang lima tahun lebih tua darinya memilih tetap melaut dengan hanya menjadi buruh di perahu orang. Ditanya soal penghasilan, Asnawati mengaku, perolehan suami setiap hari tidak menentu. ”Kadang Rp50 ribu jika ombak besar atau ikan sedang murah. Ini saja sudah dua hari hanya dapat Rp50 ribu,” rincinya.

Menurut dia, karena suaminya hanya menjadi buruh, penghasilan sangat ditentukan oleh hasil tangkapan pada hari itu. Kalau tangkapan banyak maka penghasilan juga akan cukup. ”Sangat tergantung hasil tangkapan, kadang bagus kadang juga tidak,” tambahnya.

Untuk menutupi kebutuhan dapurnya, Asnawati yang mengaku tidak bekerja, tertolong oleh anak-anaknya walaupun bantuan itu terbatas. Mereka sendiri ada anak istrinya yang harus dihidupinya.

Menjelang ramadan Asnawati dan keluarganya berharap mendapat hunian sementara (huntara). Menurut dia, agak susah jika berpuasa di tenda. Malam hari harus bangun membuat sajian sahur. Jika cuaca hujan bisa dipastikan menyiapkan makanan sahur akan repot. Pasalnya, dapur tidak berada di dalam tenda. ”Kita tidak bisa memasak dalam tenda karena mudah terbakar. Kalau hujan pasti makin repot,” curhatnya.

Sejauh ini, Asnawati dan keluarganya sudah didata, namun belum diketahui kapan mereka akan pindah di hunian sementara. Baru-baru ini baru 10 kepala keluarga yang pindah.

Pembangunan huntara yang terletak di belakang Kantor DPRD Donggala terus dilakukan. Karena itu Asnawati berharap pembangunannya segera rampung dan mereka mendapat hunian baru, sebelum ramadan tiba. ***

Penulis & Foto: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini