Cerita Uang di Balik Penyegelan Huntara

0
317
Air berbau busuk menggenangi permukaan septic tank di salah satu unit huntara di Mamboro akibat pipa pembuangannya tersumbat, 22 September 2019. Foto: Tasman Banto

Pemerintah membangun 699 unit hunian sementara senilai Rp 417 miliar untuk 8.388 keluarga penyintas. Anggaran tergunting sebelum dimulai.

NAPAKAREBA dan istrinya hanya bisa pasrah ketika belasan lelaki tiba-tiba memasang pita kuning-hitam mengelilingi tempat tinggalnya. Aksi itu mengingatkan ia pada aksi polisi ketika membatasi tempat kejadian perkara. Tapi di huntaranya tak terjadi kejahatan. Para pria itu juga tak seperti polisi. Apa yang terjadi?

Pertanyaan Napakareba terjawab setelah seorang lelaki membuat grafitti di dinding biliknya dengan cat semprot. Tulisannya besar-besar, warnanya merah. Bunyinya: Huntara ini disegel, belum lunas dibayar!

Aksi itu terjadi di Huntara (Hunian Sementara) Mamboro, di tengah siang yang terik, pada Kamis, 16 Mei 2019. Pelakunya para pegawai CV Livbar Perkasa yang membangun tiga unit Huntara Mamboro, salah satunya yang ditinggali Napakareba.

Orang-orang CV Livbar menyegel huntara tersebut karena sebagian besar uang proyek senilai Rp 1,3 miliar belum dibayar oleh PT Unik Sejahtera Bersama, perusahaan yang memberikan pekerjaan pembangunan huntara tersebut. Padahal huntara dengan 36 bilik itu sudah rampung sekitar enam bulan sebelumnya.

Tapi aksi itu tak membuat duit pembayaran cair. Maka, sekali lagi, pada 28 Juni 2019, Huntara Mamboro digeruduk. Kali ini yang beraksi para pegawai CV Karunia Nabelo. Direktur CV Karunia Nabelo, Dedi Kristian, giliran menulis di dinding huntara. Bunyinya: “PT PP (Pembangunan Perumahan, red.) mana tanggung jawabmu. Material bangunan dan jalan kawasan huntara belum lunas dibayarkan. Sudah 6 bulan kami menunggu.”

Kali ini Napakareba benar-benar gelisah. Apakah huntaranya akan disita dan harus dikosongkan? Di mana dia akan tinggal?

Tapi rupanya aksi kedua itu berhasil. Tiga hari kemudian beberapa pria datang untuk menghapus tulisan di dinding huntara. Napakareba merasa dadanya plong. “Syukurlah, kami tak diusir,” kata pria 69 tahun itu ketika ditemui Mercusuar di Huntara Mamboro, 28 Juli 2019 lalu.

Eh, Selasa siang (24/9) lalu, Napakareba sesak dada lagi. Para pemborong kembali menggeruduk huntaranya. Kali ini bahkan PT Unik Sejahtera Bersama ikut menyegel. Tuntutannya masih sama: PT PP diminta melunasi sisa pembayaran Rp 300 juta.

Tapi kita lupakan dulu Napakareba. Koran ini menemukan penyegelan Huntara Mamboro menguak masalah lain: praktik subkontrak bertingkat yang menggerogoti anggaran proyek.

Laporan selengkapnya klik : Edisi Satu Tahun Bencana

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini