Cerita Ibu Murni Menyelamatkan Diri dari Terjangan Banjir di Bangga

0
223

Banjir yang menerjang pemukiman warga di Dusun Dua Desa Bangga, nyaris tak menyisakan harapan bagi warganya. Kepiluan dihajar gempa September tahun lalu yang disusul banjir bandang sebulan kemudian masih terasa. Saat luka itu belum pulih benar, banjir dahsyat kembali menghantam. Menenggelamkan perumahan dan memaksa warganya mencari perlindungan.

ADZAN magrib membahana di atas langit mendung. Berebut dengan suara deru motor memecah suasana hening suasana di Desa Bangga. Suasana magrib sore itu terasa sunyi. Di luar rumah hujan sedang tak kunjung reda.

Ibu Murni (62) baru saja mengaitkan mukenanya di kapstok belakang pintu kamarnya. Anaknya Resti (13) tahun duduk santai di ruang tengah. Suaminya sedang ada keperluan di rumah kerabat.

Keluar dari kamar, ia menyingkap tirai jendela melayangkan pandangan ke langit. Cuaca mendung dan hujan yang tercurah dari langit tak kunjung berhenti. Di hatinya terkesiap perasaan tidak enak. Ia pun memastikan putrinya tetap di ruang tengah. Baru saja duduk, ia mendengar suara bergemuruh dari kejauhan.

Perasaannya terus berkecamuk. Suaminya tak kunjung datang. Tanpa banyak menunggu, Ibu Murni menggamit tangan anaknya. Mengambil tas berisi dokumen penting, ijazah anak-anaknya ia pun lari ke arah gunung. ”Saat saya air mulai terlihat mengalir ke arah rumah. Saat itu saya memutuskan lari. Jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi sampai di tenda pengungsian,” katanya.

Pengalamannya saat gempa 7,4 skala richter tahun lalu, memberinya pengalaman berharga. Menyadari ada ancaman yang datang, tanpa berfikir panjang, bersama anaknya langsung lari semampunya ke tempat aman. Sedangkan suaminya, lari kearah yang berlawanan. Keduanya pun baru bertemu keesokan harinya, (senin pagi).

Kini, keluarga kecil mengungsi di Madrasah Aliyah Wumbulangi Desa Bangga. Setelah memastikan semua keluarga selamat, suaminya mengambil barang yang bisa diselamatkan dari rumah. ”Hanya sebagian kecil yang bisa diambil. Di dalam rumah timbunan lumpur setara loteng. Tapi beruntung masih selamat,” ungkapnya sambil menggamit tangan anaknya.

Jalaludin (51) warga Bangga lainnya, mengungkapkan, beruntung banjir yang membawa serta material kayu dan pasir tidak datang pada saat warga sudah tidur. ”Kalau datangnya malam malam mungkin banyak yang tidak selamat,” ungkapnya.

Baik Murni maupun Jalaludin dan beberapa warga Bangga mengakui, dusun mereka tak layak lagi ditinggali. Mereka berharap pemerintah merekolasi mereka ke tempat yang aman. Nyaris semua rumah di Dusun Dua tertimbun lumpur. ”Kami rela direlokasi kemana saja,” ungkap Murni pasrah.

Warga Desa Bangga dan sekitarnya, memang menjadi langganan bencana khususnya banjir dalam skala besar. Mereka orang orang kuat. Dihajar gempa bertubi-tubi namun tetap saja celetukan soal pilpres masih terdengar di sela kesibukan mengevakuasi barang.***

Penulis + Foto: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini