Cerita Ahyar, Nelayan Lere yang Menerima Bantuan Perahu Bocor

0
180

PALU – Sudah lama Ahyar (47) tidak melaut. Perahu miliknya hancur dihempas ombak tsunami saat peristiwa 28 September tahun lalu. Untuk menghidupi keluarga kecilnya, ia beruntung karena ada bantuan dari relawan dan pemerintah, masih menyambangi kediamannya di huntara Lere-di Jalan Diponegoro. Namun seiring waktu berlalu, bantuan dari relawan makin jarang. Stok sembako makin menipis. Hingga akhirnya bantuan sembako tak lagi benar-benar mendatangi mereka.

Harapan untuk tidak terus terusan menggantungkan hidup kepada relawan mulai terlihat, tatkala pemerintah Kota Palu memberikan bantuan perahu. Sebanyak 30 unit perahu diberikan kepada nelayan di Kelurahan Lere. Ahyar termasuk dalam list yang menerima bantuan perahu berukuran 8 meter itu. Penyerahannya dilakukan Desember 2018.

Mengetahui dirinya sebagai penerima bantuan, ayah dua anak ini mulai membeli perlengkapan melaut. Pancing, layar, pengayuh (dayung) hingga keranjang ikan. ”Pokoknya semua lengkap. Begitu ada perahu, mungkin tinggal dicat langsung ke laut,” katanya.

Namun saat perahu tersebut di hadapannya, ia kaget karena tak satu pun perahu-perahu itu yang laik pakai. ”Bocor semua, jadi diperbaiki dulu. Bahkan ada lubang menganga dan tidak bisa lagi digunakan,” katanya.

Total kata dia ada 30 unit perahu yang mereka terima. Dari jumlah itu tak satu pun yang langsung pakai. Semuanya masih harus diperbaiki. ”Ada 7 buah yang kami pulangkan. Lobangnya sebesar tutup belanga,” katanya sambil menunjuk perahu yang terletak tak tauh dari tempatnya berdiri.

Rekannya, Alfin (49) juga bernasib sama. Ia tak bisa melaut karena perahu bantuan tidak bisa digunakan. Pernah kata dia, petugas dari Pemkot memberikan bantuan perbaikan berupa lem kayu. Namun bantuan itu tak cukup. Sejatinya ungkap Alfin, setiap perahu membutuhkan 1 kaleng lem untuk menambal bocor di sekujur badan perahu. Pemkot memberikan bantuan, 1 kaleng untuk dua perahu. ”Itu tidak cukup. Jadi kami beli sendiri saja,” katanya.

Setiap perahu membutuhkan biaya perbaikan antara Rp300 ribu – Rp700 ribu. Itu termasuk membeli papan untuk mengganti bagian-bagian yang lapuk. Menurut Alfin, perahu bantuan yang mereka terima bukan perahu baru melainkan bekas. Itu terlihat dari material perahu seperti cat yang terkelupas dan warna yang pucat terpapar matahari.

”Kalau perahu baru tidak mungkin lapuk seperti itu, ini pasti bekas. Tidak tau dorang ambil darimana,” kesalnya. Menurut Alfin, harga perahu berukuran 8 meter seperti bantuan pemerintah tersebut mencapai Rp8 juta per unit. ”itu kalau baru, kalau bekas begini tidak tahu berapa harganya,” katanya lagi.

Ahyar melanjutkan, sebenarnya saat ini mereka sudah harus melaut. Kebutuhan ikan cukup tinggi di saat momen ramadan. Tapi dengan bocor seperti ini, ia harus menunda dulu keinginan untuk melaut.

Dulu sebelum tsunami, ia dan rekan rekannya bisa memperoleh penghasilan Rp400 ribu per hari.
Ini penghasilan kotor. Belum termasuk beli bahan bakar dan lainnya. Penghasilan sebesar itu bisa didapat jika pasaran ikan layur sedang bagus yang mencapai Rp40 ribu per kilo. Sekarang sudah turun sekitar Rp28 ribu per kilo. ”Tapi itu masih lebih baik daripada tidak ada penghasilan sama sekali,” tutupnya. ***

Penulis + Foto: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini