Buruh Kopra di Donggala Kembali Bekerja

0
216

DONGGALA – Sejumlah buruh pelabuhan di Kabupaten Donggala tidak menunggu waktu lama untuk beraktivitas. Sekitar sepekan setelah bencana, mereka mulai kembali bekerja.

Yuniardi salah satunya. Ia adalah kuli angkut kopra di Pelabuhan Donggala. Di pelabuhan peninggalan Belanda itu, ia mengangkut karung berisi hasil bumi dari Pantai Barat seperti kakao, kopra dan cengkeh.

Kopra dan kakao kering dikemas seberat 80 – 90 kilogram. Kemudian diangkut ke peti kemas menuju kapal ke Surabaya. Sehari ia mendapat upah bersih sebesar Rp100 ribu. ”Beruntung makan minum ditanggung bos, jadi uangnya bisa untuk dibawa ke rumah,” kata, pria kelahiran 1973.

Pria yang berdomisili di Limboro, Kecamatan Banawa Selatan itu, mengatakan, dengan upah itu, ia cukup untuk menghidupi istri dan lima anak. Anaknya yang pertama dan kedua sudah menikah. Praktis kini masih ada tiga anaknya yang membutuhkan biaya untuk hidup dan sekolah.

Yuniardi telah melakoni pekerjaan itu belasan tahun silam. Bila sedang tak ada panen, maka, Yuniardi bersama 15 buruh lainnya akan memilah dan mengeringkan kopra atau kalao di dalam gudang.

Sirom (32) buruh lainnya, mengatakan, ia kembali bekerja 14 hari setelah gempa. Sebelumnya, ia memboyong keluarga kecilnya di kampungnya di Pantai Barat.

Sirom yang kini tinggal di Desa Kola Kola, Kecamatan Banawa Selatan, mengatakan, saat mendengar gudang kembali buka, ia secepatnya memboyong keluarganya ke Desa Kola Kola. “Keesokan harinya saya langsung ke pelabuhan,” kata Sirom.

Pertama bekerja, hanya sedikit kuli yang aktif. Selama sepekan, Sirom mengemas kopra-kopra lama yang mangkrak karena belum ada pasokan hasil bumi dari Pantai Barat.

Berbeda dengan Yuniardi, Sirom mengatakan, upah Rp100 ribu tak cukup untuk membiayai istri dan dua anaknya. Sebab sebulan dengan 26 hari kerja, ia meraup Rp2,6 juta. ‘’Biar dapat upah lebih, saya masuk hari minggu,” katanya.

Riwayat Pelabuhan Donggala
Kondisi kompleks pergudangan di Pelabuhan Donggala Tua tidak terlalu rusak setelah bencana. Sementara berjarak sekitar 300 meter, Kampung Muara Donggala amblas ke dalam laut. Belasan rumah hilang dan puluhan nyawa melayang.

Jose Rizal, pengelola lembaga siaran daerah di Donggala menuturkan, kompleks pergudangan kopra tersebut pernah dikelola oleh Usaha Koperasi Daerah (UKD). UKD mewarisinya dari Pemerintah Kolonial Belanda.

Dalam perjalanannya, UKD bangkrut. Lalu melelangnya ke swasta. Kini, kompleks pergudangan ini dimiliki oleh Pengpeng pengusaha swasta di Donggala.

Pada 2015 lalu, ungkap Jose Rizal, DPRD Kabupaten Donggala pernah berkeinginan untuk membeli aset ini. Karena dinilai mempunyai aspek kesejarahan.

Namun, setelah mengecek di neraca barang, ternyata kawasan tersebut adalah bangunan milik daerah. Atas dasar itu, DPRD Donggala membatalkan rencana pembelian tersebut. ”Sejak saat itu belum ada kemajuan berarti rencana pengambilalihan aset,” katanya.[]

Penulis: Yardin Hasan
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini