Bunuh Diri Tezart Rahmat Bisa Saja Dilatari Kesedihan Kepergian Sang Nenek

0
129

PALU – Kejadian bunuh diri yang dilakukan Tezart Rahmat (24) penghuni huntara Petobo mengagetkan banyak pihak. Adakah peristiwa ini dilatari oleh kesedihan mendalam atas kepergian sang nenek yang dicintainya, saat liquefaksi September tahun lalu?
Bunuh diri adalah bentuk perilaku dari gangguan depresi berat, yang membuat individu kehilangan harapan, tujuan dan kekuatan untuk tetap bertahan hidup.

Psikolog BNNP Sulteng, I Putu Ardika Yana, mengatakan, bisa saja rasa kehilangan yang mendalam terhadap sang nenek yang dicintai kemudian memicu peristiwa ini. Bisa saja dia beranggapan, dunia sudah sedemikian tidak baik kepadanya. ”Sehingga ia merasa kehilangan kesempatan bertumbuh dengan baik di dunia. Gangguan ini sayangnya bukan hanya sekadar keyakinan begitu saja, gangguan ini dapat menjadi keyakinan mendalam yang sangat dipercayai oleh penderita gangguan,” ulasnya.

Masih menurut Ardika Yana, perilaku bunuh diri tidak mungkin terjadi begitu saja. Ini bukan peristiwa tunggal. Tetapi melibatkan rentetan perilaku lainnya yang menjadi tanda-tanda depresi seperti yang disebutkan oleh ayah almarhum, wajah murung dan sering terlihat sedih, enggan bersosialisasi karena merasa sangat tertekan dan tidak ada yang memahami.

Apa yang dialami oleh korban dikatakan oleh Ardika Yana, adalah rentetan kejadian pascagempa. Korban adalah penyintas liquefaksi. Ia kehilangan seorang nenek yang tidak bisa diselamatkan pascakejadian. Pertanyaan berikutnya ungkap dia, apakah ada hubungan antara bunuh diri yang dialami dengan kejadian pascagempa. ”Sangat mungkin ditemukan hubungan ini apalagi menurut keluarga ia sangat sedih pascakepergian neneknya,” ulasnya panjang lebar.

Lebih jauh ia mengatakan, menurut WHO, penyintas yang akan mengalami gangguan mental berat pasca bencana, sekitar 3 – 4 persen dari total penyintas yang selamat. Sedangkan gangguan mental ringan yang tidak tertangani karena dianggap ringan akan semakin berat dan banyak ditemukan pasca bencana. ”Jika kita berkaca pada kasus bunuh diri ini, maka ada dua hal yang sangat mungkin terjadi.

Yaitu setelah bencana, ia mengalami sesuatu yang disebut respons manusiawi pasca bencana, seperti sedih, marah, tertekan, dan ketakutan. Respons ini kemudian berlanjut karena tidak tertangani dengan baik hingga langsung menjadi gangguan mental berat yaitu depresi,” ujarnya menambahkan.

Menurut dia, ketika sudah depresi, gangguannya pun tidak tertangani. Dalam kondisi ini perilaku bunuh diri sangat mungkin terjadi. Atau hal lain yang mungin terjadi adalah, pascabencana terjadi gangguan mental ringan dalam dirinya. Gangguan mental ini sebut dia kemudian tidak tertangani sehingga pasca 6 bulan. Gangguan ini meningkat menjadi gangguan traumatis pasca bencana (PTSD) hingga depresi dan berakhir bunuh diri.

Oleh karena itu, lanjut Ardika Yana, dari apa yang terjadi pada kasus bunuh diri ini. Kasus ini semestinya pelajaran bahwa manusia ini terdiri dari dua hal. Fisik dan Jiwa. Pemulihan kita pascabencana haruslah holistik. Tidak hanya pemulihan fisik yang berbentuk infrastruktur maupun fisik tubuh tetapi juga Jiwa. ”Catatan saya adalah, hingga saat ini pemulihan jiwa justru menjadi yang paling terbelakang menjadi perhatian masyarakat,” katanya.

MEMBANGUN KESEHATAN JIWA DI HUNTARA

Langkah yang harus dilakukan penyintas saat mereka berada dalam tekanan hidup yang kompleks?
I Putu Ardika Yana yang juga menjadi psikolog di sejenakhening.com merekomendasikan beberapa hal yang bisa dilakukan.

1. Mari peduli dan membangun kesadaran diri tentang kondisi kesehatan jiwa. Anda dapat menghubungi sejenakhening.com atau ke puskesmas atau ke rumah sakit terdekat.

2. Sering-sering berkomunikasi satu sama lain dengan anggota keluarga yang dipercayai, teman atau sahabat yang dapat menjadi tempat curhat.

3. Beraktivitas sederhana di huntara atau sekitar rumah seperti berolahraga ringan, menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing.

4. Dalam kondisi emergency (ketika anda merasa sangat tertekan) dan membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk menghubungan sejenakhening.com.

5. Mari Mengenali Depresi. Jika gangguannya semakin membahayakan, bantu dia menemukan profesional helper yang dapat menolongnya dengan benar.

Penulis: Yardin Hasan
Foto: I Putu Ardika Yana

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini