Bunuh Diri di Petobo, Tezar Rahmat Selalu Murung Sejak Kepergian Neneknya

0
157
Keterangan Foto: Warga memenuhi halaman SLB Petobo menyaksikan dari dekat peristiwa bunuh diri ini

PALU – Tezar Rahmat (24) salah seorang warga penghuni huntara (hunian sementara) di Petobo pagi tadi ditemukan meninggal gantung diri di ruang kelas SLB Petobo. Ia tewas gantung diri menggunakan seutas kabel. Di mata keluarga, Tezar dikenal pemuda periang. Namun pembawaan yang ceria tiba tiba berubah. Perubahan mencolok itu terlihat sejak pascabencana.

Penuturan Joni Yunus (52) ayah kandung almarhum Tezar Rahmat, anaknya sering bersedih atas kepergian
neneknya yang sangat dekat dengan dirinya. Sang nenek ungkap Joni Yunus, hilang bersamaan dengan liquefaksi di Petobo. Hingga kini jenazah neneknya tidak berhasil ditemukan.

Peristiwa kematian Tezar Rahmat, tak hanya mengagetkan keluarga terdekat korban. Sejumlah pengungsi yang mengenal dekat almarhum mengaku tidak ada tanda-tanda jika yang bersangkutan.

Azimin (31) penghuni huntara di Petobo mengaku, sering berpapasan bahkan berbincang dengan korban. Sama sekali tidak terlihat ada masalah yang serius di wajahnya. ”Kita bicara ringan-ringan saja. Soal kondisi di sini,” katanya.

Menurut Joni Yunus, pada 25 Maret 2019, ia baru tiba dari Dongi-Dongi. Setibanya di rumah (huntara) sudah tidak lagi melihat Korban. Ia kemudian menanyakannya ke kepada anaknya yang lain, kakak korban Arman setiawan. Dari Arman diketahui pada hari itu (25/3) korban pamit untuk keperluan di luar.

Sejak saat itu kata dia, hingga tadi malam keluarga Korban sudah berusaha mencari yang bersangkutan. Namun tak kunjung ketemu.

Korban akhirnya ditemukan di dalam ruang kelas Sekolah Luar Biasa (SLB) sekitar 1.000 meter dari kompleks huntara. Ia tewas dalam keadaan menggantung. Ia ditemukan oleh Dian Anggraeni Guru di SLB Petobo.

Menurut saksi, pukul 08.00 pagi tadi, mereka melakukan kegiatan olah raga di halaman sekolah. Usai olah raga, sekira pukul 09.00 atau memasuki jam kedua pelajaran, bersama siswa hendak menuju kelas.

Saat membuka pintu, ia melihat sosok pria tergantung di tengah ruangan, mnggunakan kabel listrik. Ia memastikan kondisinya sudah meninggal dunia. Ia kemudian menghubungi teman-teman guru yang lain. Selanjutnya mnghubungi pihak kepolisian, melaporkan peristiwa tersebut.

Kapolres Palu AKBP Mujianto membenarkan peristiwa bunuh diri tersebut. Menurutnya, korban diduga masuk ke dalam ruang kelas tersebut melewati plafon kamar mandi yang berada di bagian belakang karena ditemukan adanya bekas kaki dan plafon rusak. “Pintu ruang kelas yang digunakan korban gantung diri masih dalam keadaan terkunci saat saksi membuka pintu tersebut,” ujarnya.

Penulis: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini