BMKG Palu Tambah 16 Alat Sensor Pendeteksi Gempa

0
707
Hendrik Leopatty

PALU – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Palu akan menambah 16 alat sensor pendeteksi gempa, seismograf untuk mengantisipasi dan mengukur guncangan akibat gempa bumi di Provinsi Sulawesi Tengah.

Dengan ketambahan16 alat sensor pendeteksi gempa dan 9 alat sensor sebelumnya, BMKG Palu memiliki 25 alat sensor gempa tersebar diseluruh wilayah Sulteng. Sebelumnya, pendetksi gempa milik BMKG hilang dicuri di wilayah Kabupaten Sigi.

Kepala seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Klas 1 Palu, Hendrik Leopatty   Jumat (29/11) mengatakan, tahun ini ada ketambahan 16 alat sensor pendeteksi gempa, akan dipasang ke berbagai wilayah Sulteng.

Dia mengatakan, alat sensor itu diantaranya akan dipasang 6 di wilayah Kabupaten Donggala meliputi kecamatan Banawa, Banawa Selatan, Balaesang, Balaesang tanjung, Sindue dan Rio Pakava.

Kemudian, 3 di Kabupaten poso meliputi desa Wasa, Kasiguncu, Bariri dan 2 di Kabupaten Parigi Mautong meliputi  Toboli, Taupa. Dan 1 di Kabupaten Buol, 1 di kabupaten Banggai dan 3 di Kabupaten Morowali.

“Untuk sensor di Kabupaten Morowali , lebih difokuskan pada bidang patahan sesar  Matano. Sedangkan di Kabupaten Donggala difokuskan pada patahan sesar Palukoro, ” ujarnya.

Dia menyebutkan, akhir Desember ini Perakitan modul untuk instalasi sumber daya energinya listriknya dan komunikasinya.

Selanjutnya kata dia, pada bulan Januari- Juni tahun 2020 konfigurasi semua alat sensor terpasang dan rencana aktivasi pemanfaatan  sensor-sensor ini dioptimalkan pertengahan tahun 2020. Sehingga dapat dimanfaatkan BMKG untuk satu Indonesia.

Dengan 25 alat sensor terpasang tersebut, nantinya akan menambah kecepatan dan akurasi analisa data. ” Kami berupaya setiap ada kejadian gempa diwilayah kerja dapat terbaca dibawah 5 menit,” ujarnya.

Ia mengatakan, berkaca dari pengalaman gempa sebelumnya adanya ganguan listrik pada alat sensor pendeteksi gempa terpasang, saat ini menggunakan panel solar. Sedangkan komunikasinya menggunakan  satelit Vsat.

Sedangkan sumber listrik di kantor guna menganalisa data yang masuk, Ia menyebutkan, mengantisipasinya dengan mencadangkan mesin genset, bahan bakar minyak (BBM) nya full tangki.

“Bisa dipakai sampai 2 hari , sebelum listrik normal,” katanya.

Dia menambahkan, guna mengantisipasi pencurian alat sensor pendeteksi gempa terpasang, pihaknya berkoordinasi dengan kepolisian dan pemerintah setempat, serta mensosialisasikannya kepada masyarakat.

Selain itu , kata dia menempatkan 1 orang penjaga sensor dan memasang plang berisikan tulisan larangan mengambilnya beserta ancaman pidananya disekitar area penempatan sensor. “Hal ini bisa mencegah dan mengantisipasi pencurian kembali terjadi,”ujarnya.

 

MUNCUL SESAR BARU

Dilansir dari Antara Palu,  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika stasiun Geofisika klas I Palu, mencatat adanya puluhan patahan atau sesar yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah yang terbentuk akibat sesar utama Palu Koro. Patahan tersebut merupakan sesar yang terbentuk akibat sejumlah kejadian gempa yang terjadi di wilayah tersebut, yang diakibatkan oleh sesar utama yang ada di wilayah itu, yakni sesar Palu Koro, kata Bambang Haryono, Kasi Observasi BMKG Geofisika Palu. Rabu. ”Kalau sesar utamanya adalah Palu Koro. Dari respon sesar Palu Koro bisa terjadi gempa gempa lokal yang jumlahnya  banyak. Itu kita namakan sesar sesar lokal’, ‘ ujar Bambang Haryono. ***

 

Penulis :  Ikram
Editor   : Yardin Hasan

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini