Bersihkan Puing Bekas Gempa, UNDP Pekerjakan 3500 Penyintas

0
248

PALU — Badan PBB untuk Pembangunan (UNDP) menargetkan akan melibatkan 3500 penyintas pascabencana untuk membersihkan sisa reruntuhan gempa, tsunami dan likuefaksi. Para penyintas itu berasal dari Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi.

Pelibatan para korban itu dalam sebuah program yang disebut Padat Karya. UNDP Indonesia Country Director, Christophe Bahuet menjelaskan, para penyintas yang terlibat dalam Program Padat Karya itu, diberikan bayaran dalam pekerjaan mereka sebesar Rp80 ribu per hari sejak 10 November 2018 hingga akhir Januari 2019. Para peserta Padat Karya juga dijamin dengan asuransi BPJS.

“Pada tahap pertama ini kita libatkan 300 orang dari Desa Lolu, Jono Oge dan Desa Mpanau Kabupaten Sigi,” kata Christophe Bahuet, pekan lalu.

UNDP tidak bekerja sendiri dalam Program Padat Karya itu, tetapi mereka bermitra dengan Relawan untuk Orang dan Alam (ROA), Perkumpulan Inovasi Komunitas (Imunitas) dan Yayasan Mitra Karya Membangun (YMKM).

Di tahap pertama Program Padat Karya tersebut, akan berlangsung selama 25 hari di Kota Palu. Selanjutnya pada tahap kedua akan dilakukan di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala.

Sedangkan lokasi desa tahap kedua, tergantung hasil penjajakan teknis terhadap tingkat kerusakan dan hasil koordinasi dengan pemerintah setempat.

“Sampai akhirnya program pada akhir Januari 2019 nanti, kami akan mempekerjakan 3500 orang,” ujarnya.

Christophe Bahuet menjelaskan, dalam skema padat karya, setiap pekerja akan mendapat bayaran maksimal selama 25 hari. Program padat karya menargetkan partisipasi dari kaum perempuan sebesar 40 persen dari jumlah pekerja.

“Program ini merupakan bagian dari program bantuan cepat bagi korban bencana dari UNDP sejumlah USD 1.4 juta untuk membantu upaya pemulihan,” jelasChristophe Bahuet.

Menurut dia, UNDP tidak sekadar memberikan dana tunai sebagai santunan terhadap para korban gempa, tsunami dan likuefaksi, tetapi dengan cara mempekerjakan warga. Semua itu dimaksudkan agar warga termotivasi untuk bekerja dan bangkit dari keterpurukan pasca bencana di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala.

“Yah, kami berharap program ini membantu warga untuk segera pulih dan bangkit,” ujarnya.

Salah seorang peserta Program Padat Karya, Ny. Sul Lamakampali mengatakan sangat terbantu dengan program UNDP tersebut. Dengan bekerja seperti itu, justru membuat dia tidak menjadi orang yang hanya sekadar menunggu bantuan pemerintah tetapi dia dipacu untuk bekerja dan mendapatkan bayaran.

“Ini sangat mendidik saya dan warga lainnya. Memang sebaiknya begini cara membantu mengurangi beban kami. Karena setelah bencana ini, kami kehilangan mata pencaharian. Maka hasil dari pekerjaan Padat Karya ini, bisa menjadi modal awal bagi saya untuk berusaha,” ujarnya.

Program padat karya dan program pemulihan seperti itu, merupakan pengalaman UNDP dalam rekonstruksi dan pembangunan kembali Nepal yang ditimpa bencana alam serta Filipina yang diterjang badai Pablo di tahun 2012 silam. Pembiayaan prakarsa ini berasal dari UN Central Emergency Response Fund, dan UNDP.[]

Reporter : Ochan Sangaji
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini