Bersama Membangun untuk Manfaat Semua Warga

0
153

Tidak dipungkiri bahwa penyintas bencana akan membutuhkan bantuan baik secara materi maupun bentuk bantuan lain. Namun demikian, lembaga pemberi bantuan tidak boleh melupakan bahwa penyintas bencana tetap dapat berdaya. Dengan kata lain, jangan melupakan kapasitas yang dimiliki oleh mereka.

Memberi bantuan tanpa memperhitungkan kapasitas yang dimiliki para penerima bantuan maka hanya memberi saja tanpa memberikan penguatan kepada si penerima bantuan. Untuk kondisi tanggap darurat setelah bencana, mungkin hal tersebut tepat untuk dilakukan. Namun untuk tahapan-tahapan lanjutan setelah masa tanggap bencana, seperti yang diberlakukan di Sulawesi Tengah pasca bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi yang saat ini memasuki masa transisi ke masa rehabilitasi, perlu kiranya melibatkan masyarakat yang dibantu dalam bentuk intervensi yang dilakukan.

Pelibatan masyarakat menjadi penting karena selain memberdayakan kapasitas yang dimiliki, kapasitas tersebut coba untuk ditingkatkan. Peningkatan kapasitas inilah yang disasar oleh Tim ERCB dalam intervensi di sektor WASH, terutama untuk pendirian MCK di beberapa desa yang ditargetkan.

“Prinsip kami adalah bantuan yang kami berikan haruslah bermanfaat dan tidak menimbulkan masalah,” kata Agus Suranto, dari Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP). Bermanfaat karena yang diupayakan adalah benar-benar dibutuhkan oleh para warga. Tidak hanya bermanfaat pada saat masyarakat dalam masa pengungsian pasca bencana, namun tetap terus bisa dimanfaatkan setelahnya.

Tidak menimbulkan masalah karena dalam pembuatannya memperhatikan beberapa aspek. Keberadaan ijin atas tanah yang digunakan untuk pendirian MCK, ketersediaan sumber air dan listrik, juga kesadaran untuk tidak menimbulkan pencemaran melalui desain yang dibuat menjadi patokan dalam pelaksanaannya.

“Jika pembuatan dan pengelolaannya benar, maka melalui desain ini diharapkan resapannya tidak akan pernah penuh, karena terjadi proses pembusukan. Air yang keluar dari proses akhir adalah air bersih yang tidak mencemari lingkungan,” tambah Agus.

Proses transfer ilmu pun terjadi disini, yang merupakan bagian dari penguatan kapasitas melalui penjelasan desain dan pendampingan kepada warga saat membangun fasilitas MCK tersebut.

Terkait manfaat, Bahtiar, Kepala Desa Tuva, mengamini ketika Kareba Palu Koro bertanya apakah pembangunan MCK di wilayahnya memberi manfaat kepada warga.

“Warga biasanya memanfaatkan sungai untuk melakukan kegiatan mandi dan buang air. Sedangkan untuk mencuci, warga di sekitar sini biasa memanfaatkan sumber air di dekat sini,” kata Bahtiar. Permasalahannya adalah ketika malam tiba, warga tidak berani pergi ke sungai karena kurangnya penerangan.

“Jadi, pembangunan ini (fasilitas MCK) sangat bermanfaat. Hanya beberapa rumah saja yang sudah punya. Jadi kalau ini sudah jadi, warga tidak bingung lagi walaupun malam tiba,” sambungnya. Rencananya fasilitas MCK tersebut dibangun di tiga titik. Dalam proses pembuatannya melibatkan warga. Bahkan di salah satu titik mereka secara swadaya membangun peresapannya.

Koordinasi dan keterlibatan masyarakat terkait pembangunan fasilitas MCK oleh ERCB ini juga dapat dilihat di desa lain, seperti di Kelurahan Lambara, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu. Warga yang rumahnya rusak oleh gempa dan tsunami mengungsi ke sebuah lapangan bola yang terletak di Desa Lambara ini. Dikelola oleh sebuah organisasi masyarakat bernama Lambara Remaja Tawaeli (Lamreta), lokasi di lapangan tersebut menjadi posko pengungsian yang cukup tertata.

“Awalnya komunitas ini dibentuk untuk mewadahi anak-anak muda untuk berkegiatan positif,” kata Fino, Ketua 2 Komunitas Lamreta. Keterlibatan mereka dalam pengelolaan posko tersebut karena mereka merasa terpanggil untuk membantu sesama. Walaupun yang berada di posko tersebut sebagian besar bukanlah warga Desa Lambara.

“Ada beberapa keluarga disini, namun sebagian besar yang mengungsi disini adalah warga dari Kelurahan Panau yang terkena tsunami. Namun kami tidak membeda-bedakan dalam memberikan pelayanan,” tambahnya.

Ditemui Kareba Palu Koro di posko, saat sedang bekerja bakti membangun fasilitas MCK, Fino dan teman-teman Lamreta sangat menyambut gembira adanya fasilitas tersebut.

“Sangat bermanfaat,” jawab Fino saat ditanya tentang keberadaan fasilitas MCK tersebut.

Lapangan yang digunakan untuk pengungsian tersebut biasanya digunakan untuk latihan sepakbola dan kegiatan kemah pramuka. Selain itu, warga setempat juga menggunakan lapangan tersebut untuk sholat Ied.

“Jadi, jika para pengungsi tidak lagi tinggal disini lagi, akan terus dimanfaatkan dan dipelihara dengan baik,” tambahnya.

Bahkan mereka memodifikasi luasan bilik, luasan atap, bagian dinding, dan bagian terasnya agar lebih nyaman ketika nantinya digunakan oleh warga. Bahan baku untuk modifikasi tersebut dari hasil swadaya. Kemampuan teknis yang cukup baik dari para anggota Lamreta membuat ERCB mencoba untuk menjajagi kemungkinan mengajak mereka untuk menjadi pendamping teknis di desa-desa lain dimana ERCB bekerja. Di beberapa titik pembangunan fasilitas MCK terkadang memang masih ditemui kendala terkait hal tersebut.

Kendala terbesar yang dihadapi adalah ketersediaan semen. Permintaan yang cukup tinggi akan semen membuat semen sulit untuk didapatkan. Jika pun ada, harganya lumayan tinggi, walaupun sudah ada penetapan tentang harga semen untuk wilayah Sulawesi Tengah.

Sumber Berita: Kareba Palu Koro Edisi I Desember 2018 (Newsletter terbitan konsorsium ERCB – Emergency Response Capacity Building)
Foto: Martin Dody/ ERCB
Caption Foto: Warga Kelurahan Lambara mengerjakan MCK secara mandiri.
Editor: Firmansyah MS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini