Beri Asi Esklusif, Mengurangi Kekerdilan Pada Anak

0
330

PALU – Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indoneaia (IDAI) dr.Wiyarni Pambudi mengatakan, menyusui dan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif dapat menyelamatkan bayi dan anak dari risiko kekerdilan (stunting). Untuk itu, pemberian ASI eksklusif di situasi normal maupun di situasi bencana harus menjadi perhatian semua pihak.

Menurutnya, kekerdilan bukan disebabkan faktor genetik,tetapi hal itu dipengaruhi oleh asupan gizi yang tidak memadai, termasuk pola asuh anak sedari masa kelahiran.

Perlu diketahui, lanjut dia, kekerdilan melemahkan kecerdasan anak serta mempengaruhi pertumbuhan fisiknya, maka dari itu pemberian ASI eksklusif paling ideal mencegah risiko tersebut.

Beberapa faktor penyebab kekerdilan di antaranya, kesehatan dan gizi ibu kurang terjamin karena di pengaruhi jarak kehamilan terlalu dekat, serta kehamilan di usia remaja. Selain itu, pemberian makanan pendamping ASI eksklusif tidak memenuhi kualitas dan tidak bervariasi.

“Pola asuh yang tidak tepat serta kondisi lingkungan yang buruk serta minimnya layanan kesehatan sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak,” jelasnya.

Issu itu, mengemuka saat lokakarya lintas sektor yang di gelar Save the Children bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Wahana Visi Indonesia di salah satu hotel di Palu, Kamis (22/8/2019).

Kegiatan itu dilakukan sebagai upaya peningkatan kapasitas dan pengetahuan serta kesadaran para orang tua maupun pihak-pihak pemangku kebijakan akan pentingnya pemberian ASI esklusif.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Sulawesi Tengah tahun 2018 menunjukkan bahwa proporsi inisiasi menyusui dini pada bayi dan anak usia 0-23 bulan sekitar 60 persen. Data itu masih terbilang cukup rendah.

Dari data tersebut harusnya ada upaya efektif dan kreatif untuk melindungi, mempromosikan serta mendukung praktek menyusui di wilayah Sulteng.

Menurut Manager Communication dan advocacy Save The Children Dewi Sri Sumanah, setiap anak wajib memperoleh hak-hak dasarnya untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan terlindungi sejak awal kehidupannya.

Dewi mengatakan, keberhasilan menyusui seorang ibu merupakan bentuk upaya pengasuhan yang berkelanjutan, bahkan dimulai sejak masa kehamilan hingga di usia tumbuh kembang bayi.

Untuk mendukung hal itu, kata dia, dibutuhkan upaya dan komitmen bersama dari ayah, keluarga, dan tenaga kesehatan serta keberpihakan pihak terkait.

“Itulah alasan kenapa ASI ataupun kegiatan menyusui itu sangat penting bagi anak. Baik disituasi normal maupun emergency seperti yang menimpa Palu dan sekitarnya,” ujarnya.

Lanjut Dewi, pemberian susu formula di situasi bencana kepada bayi lebih rentan terserang penyakit diare, karena kondisi lingkungan yang kurang memadai dan ketersediaan air bersih yang minim.

Melihat situasi ini, dr Husaema Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, mengatakan, kedepan di setiap puskesmas dan posyandu petugas diminta tidak hanya sekadar menimbang bayi namun harus memperhatikan aspek gizi bayi.

Husaema akan memerintahkan tenaga gizi agar turun lapangan di setiap puskesmas dan posyandu membantu memberikan pemahaman kepada para kader. Selanjutnya para kader tersebut yang akan menularkan pengetahuannya kepada masayarakat khususnya kepada ibu hamil.

Husaema menyebutkan angka stunting di Kota Palu menunjukkan angka 24,1 persen sedangkan persentase gizi kurang berada diangka 22,4 persen. Angka itu sudah masuk kategori gizi buruk. Angka ini jauh dibawa rata-rata nasional yakni 35 persen dan 12,83 persen anak kurus.

Reporter/foto : Moh. Fais Syafar
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini