Bencana dan Hilangnya Mata Pencaharian Penyintas

0
528
Foto : ilustrasi

PALU – Hampir satu tahun pascabencana, 28 September 2018 lalu, dampaknya masih dirasakan warga. Banyak warga yang sulit mendapatkan pekerjaan. Kehidupan mereka berubah, yang dulunya mempunyai rumah megah, kini harus tinggal di hunian sementara.

Sartika, salah satu penyintas yang tinggal di hunian sementara Pantoloan Ova, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, mengakui hal itu, dirinya terpaksa kehilangan mata pencaharian saat rumahnya yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Pantoloan hancur disapu tsunami.

Sebelum gempa Sartika, berjualan di kapal yang sandar di Pelabuhan Pantoloan. Kebetulan waktu itu, rumahnya dekat pelabuhan, hanya dengan berjalan kaki sudah bisa berjualan. Namun sekarang jarak antara huntara tempat tinggalnya dengan pelabuhan lumayan jauh.

“Saya merasa bingung, tidak tau harus berbuat apa. Rumah saya hilang disapu tsunami, mau kerja, tempat tinggal saya jauh dari pelabuhan,” ujarnya saat ditemui Rabu, 21 Agustus 2019.

Selain kehilangan rumah, Sartika yang menjabat sebagai ketua RT Huntara Pantoloan Ova ini, juga kehilangan perlengkapan dagangan. Sebab itulah ia tak bisa berbuat banyak.

“Sebenarnya saya ingin sekali memulai usaha, namun belum punya modal, sementara saya harus menghidupi anak-anak yang masih kecil seorang diri,” ucapnya.

Setelah bencana, kata dia, beberapa warga Pantoloan sudah pernah mencoba berjualan kembali, dengan modal yang pas-pasan. Namun tidak berlangsung lama. Pasalnya, mereka tidak diizinkan berjualan dalam kapal.

“Sekarang penjual sudah tidak di perbolehkan masuk jualan di kapal, padahal sebelum bencana masih di perbolehkan,” terangnya.

Sartin warga Pantoloan Ova juga mengeluhkan hal yang sama. Menurutnya ia sudah mulai berjualan makanan nasi sate di Pelabuhan Pantolan, namun jualannya terkadang tidak laku. Modal pun tidak kembali. Belum lagi, kapal jarang masuk di Pelabuhan Pantoloan.

“Kapal sudah jarang masuk, penumpangnya pun tidak sebanyak dulu,” keluhnya.

Menurut dia, sebagian warga Pantoloan Ova, ada juga yang bekerja sebagai buruh lepas di Pantoloan dengan gaji kurang lebih Rp50.000 per hari. Sementara kapal masuk hanya 2 minggu sekali.

Saat ini kata dia, warga yang tinggal di hunian sementara Pantoloan Ova masih sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah. “Seperti yang dijanjikan pemerintah saat pertama kali pindah di huntara bahwa akan menjamin hidup warga di huntara,” terangnya.

Belum lama ini, kata dia, Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) Sulteng telah membentuk kelompok usaha perempuan yang berada di huntara Pantoloan. Bahkan KPPA telah membuat diskusi dengan warga yang berada di huntara.

“Hal ini membuat warga huntara Pantoloan kembali bersemangat ingin memulai usaha lagi untuk memulihkan perekonomian mereka,” tutupnya.

Jurnalisme Warga : Adrianti Tahir
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini