Bencana dalam Sajak-sajak Renjana

0
569

Tuhan yang tersayang,
semoga Engkau betah
tinggal di dalam aku
walau aku hanya sebuah rumah
yang porak poranda
diamuk bencana
dan entah kapan
selesai dibangun kembali

Tuhan yang terindah
semoga engkau betah
tinggal di dalam aku
walau aku hanya sebuah tenda
yang sumpek dan gerah
dipadati para pengungsi.

Ambillah semua yang aku miliki:
segelas air mata,
sepiring rindu,
sepotong doa,
dan segenggam cinta
Yang tetap utuh dan murni.

Puisi “Doa Cinta” itu ditulis Joko Pinurbo pada 7 Oktober 2018, sebagai ungkapan dukanya atas bencana yang melanda Palu dan sekitarnya 28 September silam.

Karya penyair terkemuka yang akrab disapa JokPin ini berada dalam deretan 26 puisi yang ditulis 20 penyair dalam buku kumpulan puisi “2018: Almanak Bencana dan Sajak-Sajak Renjana”. Buku ini telah diluncurkan di Makassar International Writers Festival di Makassar, Juni lalu.

Buku ini lahir atas inisiasi Neni Muhidin, seorang penyair serta pendiri perpustakaan mini Nemu Buku di Kota Palu.

Dahsyatnya rangkaian bencana gempa, tsunami, likuifaksi di kotanya mengakumulasikan kesedihan dan kegelisahan Neni yang sehari-hari bergulat sebagai penggiat literasi kebencanaan.

Bersama sejumlah sejawatnya, ia kemudian menghelat Malam Puisi Palu pada 8 Oktober 2018. Sehari sebelumnya, ia telah mengontak kawan-kawan penyair dari berbagai daerah untuk mengirim puisi yang akan dibaca saat Malam Puisi itu.

“Untuk saling menguatkan antar sesama penyintas bencana,” kata dia, pekan lalu.

Para penyair yang mengirim puisi, tiga di antaranya berasal dari Palu, Masamah Amin Syam, Rohmat Yani, termasuk Neni sendiri.

Nama lainnya ada Pinto Anugrah dari Padang, Aleks Giyai di Papua, serta duet penyair Maluku, Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes, serta sejumlah penyair lainnya.

Sebagian besar, kata Neni, para penyair mengirim karya mereka sebelum malam pembacaan. Sebagian sisanya, mengirim puisi beberapa bulan setelah acara. Karya mereka inilah yang kemudian menjelma menjadi buku setebal 70 halaman.

“Satu dari penyair yang langsung mengirimkan karyanya saat saya minta adalah Joko Pinurbo,” kata Neni yang pernah menerbitkan kumpulan esainya berjudul “Selfie: Sewindu Catatan dari Palu (2015).

Bagi Neni, buku yang dicetak 700 eksemplar secara indie ini, menjadi bagian sebagai pengingat atas bencana di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, ia berharap buku ini bisa menemui pembaca yang lebih luas.

“Karena potensi bencana bisa terjadi di seluruh Indonesia dan dunia,” katanya.

Wartawan Harian Kompas, Ahmad Arif, dalam kata pengantarnya, menulis bagaimana puisi pernah menjadi penanda penting bagi perubahan cara manusia di Eropa menghadapi bencana.

Kisah itu bermula dari gempa dan tsunami yang menghancurkan Kota Lisbon, Portugi, 1 November 1755. Sekitar 40 ribu iwa dari 200 ribu total penduduknya tewas. Para agamawan kemudian merutuki para pendosa sebagai penyebab bencana.

Tapi, dogma agama tentang bencana itu dilawan oleh Voltaire, seorang sejarawan dan juga sastrawan. Dia menulis buku Candide or Optimism (1758), yang mengkritik dogma agama tentang gempa. Dia berargumen, gempa mengikuti hukum alam, bukan disebabkan tindakan manusia, sekalipun hingga saat itu belum diketahui dengan pasti mekanisme.

Menurut Arif, pemikiran Voltaire ini menjadi salah satu penyumbang awal kelahiran era rasionalisasi pengetahuan modern, yang kemudian di bawa ke Jepang seratus tahun kemudian di era Restorasi Meiji pada 1868.

“Jepang yang semula menganggap gempa karena ikan raksasa yang hidup di bawah tanah, kemudian berubah menjadi negara yang terdepan dalam memitigasi bencana berdasarkan ilmu pengetahuan,” tulis Arif yang menulis buku “Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme” ini.

Namun selain buku tersebut, titik awal perlawanan Voltaire adalah puisi yang ditulis beberapa bulan setelah bencana:

…..Will you say, in seeing this mass of victims: / “God is revenged, their death is the price for their crime?” / What crime, what error did these children, / Chrused and bloody on their mothers’ breasts, commit? / Did Lisbon, which is no more, have more vices / Than London and Paris immersed in their pleasures? / Lisbon is destroyed, and they dance in Paris!

Voltaire, 1755

Arif berharap, sederetan puisi yang ditulis para penyair dalam buku “2018: Almanak Bencana dan Sajak-Sajak Renjana” tersebut bisa menjadi momentum perubahan di negeri ini.

Penulis: Jefrianto
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini