Belajar Daring di Tengah Pandemi, Mencari Sambungan Telepon ke Hingga 5 KM

0
299
BELAJAR DI TENDA - Dina Dwi Wayhuni (11) pelajar kelas 4 SDN Inpres Balaroa sedang menyelesaikan tugas bejibun dari sekolahnya

PALU – Suasana gerah di dalam tenda UNHCR terasa menyiksa. Peluh meleleh di kening. Bocah perempuan itu tampak serius berkutat dengan buku-bukunya. Sambil mengelap keringat, ia terus fokus dengan pelajarannya sambil sesekali melirik smartphone di dekatnya. Mencocokan jawaban dengan tugas yang diberikan gurunya melalui hape. Di dekatnya duduk adik bungsunya, kerap mengganggu kakaknya yang berusaha fokus.

Di adalah Dina Dwi Wayhuni (11) pelajar kelas 4 SDN Inpres Balaroa. Ia harus menyelesaikan tugas bejibun dari sekolahnya. Tugas yang tidak bisa ditunda, karena tugas lainnya terus berdatangan dari sekolahnya. Namun Dini tidak bisa menyelesaikan tugas sekolahnya secepatnya.

Bukan karena ia tak punya waktu. Bukan pula karena harus membantu sang ibu Murdiyah (35). Dini mengaku sering kehabisan pulsa data untuk menyelesaikan tugas tugas yang harus menggunakan internet. Mulai dari komunikasi dengan guru maupun mencari bahan pendukung yang sebagian besar harus diperoleh dari internet.

Dina mengaku tidak bisa setiap saat harus membeli pulsa data internet. Kakaknya Widya Nur Aulia yang duduk di kelas 2 SMP Negeri 13 Palu, juga membutuhkan pulsa data yang tidak sedikit. Bahkan kebutuhannya lebih besar karena tugas-tugas sekolah yang terus bertambah. Kebutuhan pulsa data menurut Murdiyah tergolong tinggi. Untuk kakaknya yang sekolah di SMP Negeri 3 Palu, pulsa senilai Rp50 ribu dipakai tak sampai dua pekan. Jika dua-duanya harus dibelikan pulsa diakuinya agak berat.

Namun ia tidak kehabisan akal. Saat pulsa data sedang seret. Maka giliran sang ibu sendiri yang pontang panting, agar kedua anaknya tidak ketinggalan pelajaran dari sekolah. Mulai dari mengambil tugas di sekolah hingga mengantar anak-anaknya mencari kerabat yang punya jaringan internet terpaksa dilakukannya.


yardin hasan
DI TENDA – Ibu Murdiyah (35) tahun punya tugas tambahan mengambil tugas anak-anaknya di sekolah

 

Sejak belajar daring diterapkan oleh sekolah, Murdiyah mengaku, ia harus mengantar kedua anaknya secara bergantian ke Kelurahan Silae, yang berjarak sekira lima kilo dari kediamannya di Shelter Tenda Balaroa. ”Di sana ada kakak punya hape. Pulsanya banyak. Dipinjam dulu atau minta dibukakan hotspot,” katanya.

Murdiyah mengaku, penghasilannya dari menjahit masker maupun penghasilan suami sebagai pengecat di perusahaan mebel, tidak bisa semuanya digunakan untuk membeli pulsa data untuk dua anaknya. Masih banyak kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, khsusnya pangan dan sandang.

Bahkan walau berstatus penyintas liquefaksi Balaroa, keluarga kecil ini dipastikan tidak mendapat hunian sementara baik yang dibangun Yayasan Buddha Tzu Chi maupun yang dibangun Kementerian PUPR. ”Kami hanya ngontrak rumah di Perumnas Balaroa dulu,” ungkap Murdiyah sambil terus meneruskan jahitannya.

Cerita soal kendala belajar daring tak hanya datang dari anak-anak Murdiyah. Salah satu tetangganya di Shelter Tenda Balaroa juga mengaku, bahkan tidak bisa lagi mengikuti perkembangan pelajaran di sekolahnya.

Salah seorang ibu mempunyai anak perempuan bernama Rizky. Ia pelajar kelas 1 SMA Negeri 4 Palu. Sejak belajar daring diterapkan tak bisa mengikuti pelajaran yang diberikan guru-gurunya. Rizky ungkap ibunya tidak mempunyai smartphone. ”Dulu anak saya punya hape, tapi dijual karena ada kebutuhan penting,” katanya menambahkan.

Dampak wabah Coronavirus Desease 2019 (covid 19), memaksa pemerintah akhirnya meliburkan sekolah mulai dari pra sekolah (PAUD) TK hingga SMA. Pihak sekolah mewajibakn anak didik mengikuti pelajaran melalui jaringan internet. Sayang, kebijakan jalan tengah ini belum sepenuhnya mengatasi masalah. Banyak di antara anak-anak didik itu yang tak punya perangkat memadai. Jika pun ada, maka pulsa data akan menjadi kendala berikutnya.

Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Palu, Syamzaini mengatakan, pihaknya sangat fleksibel menerapkan kebijakan ini. Sekolah katanya menyadari tidak semua siswa punya perangkat. Kalau pun punya, tidak semua orang tua menyiapkan data setiap saat untuk anaknya.

Syamzaini mengaku, menugaskan setiap wali kelas untuk memantau anak didiknya. Jika ada siswa yang tidak mempunyai handphone android, maka guru menitip pesan kepada teman sekelas yang dekat dengan siswa yang bersangkutan agar bisa menyelesaikan tugasnya selama masa pandemi ini. ”Tapi kami akan fleksibel. Tidak menyusahkan anak-anak dari sisi nilai. Ini masa darurat yang perlu pendekatan secara bijak,” tutupnya. ***

Penulis: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini