Belajar Bangkit Dari Petani Garam Talise

0
453

PALU — SEORANG lelaki paruh baya, kembali ke pondoknya, setelah mengecek pematang di tambak garam miliknya. Sementara di pondok, sudah menunggu istri dan dua anaknya, dengan rantang berisi bekal makanan.

Siang itu, matahari bersinar cukup terik, memantul dari butir-butir putih garam, yang mulai muncul dari pematang.

“Kalau cuaca bagus, 3-5 hari sudah jadi garamnya,” kata Usman.

Dalam kesempatan itu Ia menjelaskan proses pembuatan garam, pertama kata dia, air laut dialiri ke kolam induk, kemudian disaring menggunakan pompa alkon, setelah itu di alirkan ke kolam besar, lalu dialiri ke kolam pemanas sekitar 2-3 hari, sampai kadar garam tinggi.

“Setelah airnya surut, baru dimasukkan ke pematang, untuk diproses sampai jadi gara,”tuturnya.

Usman merupakan salah seorang dari ratusan petani garam lainnya di kawasan penggaraman Talise, yang memutuskan untuk kembali mengolah tambaknya, pasca bencana 28 September 2018. Tambak miliknya, sudah mulai beroperasi kembali sejak 6 bulan lalu, yakni awal Februari 2019.

“Dari Desember saya sudah mulai perbaiki tambahk produksinya nanti awal April,” ujarnya.
Usman juga mengaku, produksi garam pascabencana ini, tidak seoptimal sebelum bencana. Dalam seminggu, bisa dilakukan hingga tiga kali panen. Jika dulu sekali panen bisa sampai 3-4 karung, sekarang paling banyak hanya 2 karung.

“Tambak saya ada dua. Luasnya kurang lebih 700 meter persegi. Pas bencana lalu, pematang, kolam, penampung, semuanya rusak, hampir 100 persen rusak,” ujarnya.

Berdasarkan data nelayan terdampak bencana di Kabupaten Donggala dan Kota Palu yang dikeluarkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Desember 2018 lalu.

Sementara jumlah petani garam terdampak bencana mencapai 157 orang, yang terbagi dalam 16 kelompok Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR), dengan luas lahan tambak garam yang terdampak 18,05 hektar dan 4 korban meninggal dunia akibat bencana.

Lanjut ayah dua anak ini, pascabencana, baru sekitar 70 persen petani garam yang kembali mengolah tambak garamnya. Mereka sedikit terbantu dengan bantuan peralatan untuk memperbaiki tambak, seperti papan, sekop, pacul, dan alat-alat lainnya, yang dibantu oleh Oxfam serta Dinas kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng.

Terkait harga jual garam pascabencana, Usman mengaku masuknya garam dari luar Palu, membuat garam Talise semakin ketinggalan, dari segi harga. Menurutnya, setelah panen, paling hanya seminggu harga bertahan normal, lalu kemudian jatuh lagi.

Harga garam lokal sendiri kata dia bisa sampai Rp100 ribu yang kotor, lalu Rp120 ribu sampai Rp150 ribu per karung ukuran 50 kg, jika harga sedang bagus. Kalau harga anjlok kata dia, bias sampai Rp60 ribu per karung.

Ia menguraikan, biasanya dirinya menampung dulu semua hasil produksi, setelah butuh baru dijual. Kalau normal, harga bisa Rp80 ribu sampai Rp90 ribu yang kotor, yang bersih Rp100 ribu. Kalau stok kurang harganya bisa mencapai Rp120 ribu.

Usman mengaku sudah sekitar 25 tahun terjun di usaha tambak garam ini. Sejak usia TK, dia sudah dibawa oleh orang tuanya untuk mengolah garam.

“Sudah turun temurun kami mengolah garam di sini. Kalau dihitung-hitung, sampai ke saya, sudah generasi kelima,” ucapnya.

Ia mengisahkan cerita neneknya, dahulu orang pribumi disini mata pencahariannya hanya menjual garam dan kelapa, lalu orang dari Selatan (Sulawesi Selatan red.), datang lewat dermaga di Limbuo, bawa bahan pokok untuk ditukar dengan garam.

Para pedagang ini lalu kawin dengan penduduk lokal dan akhirnya ikut mengolah garam.

Menurut dia, jika ada petani garam yang meninggal, maka cucu dan keponakannya yang menggantikan mengelola tambak. Ada juga kata dia, menggunakan sistem bagi hasil dengan pemodal yang meminjamkan modal untuk mengelola tambak.

Ketika ditanya soal apakah dirinya sudah mengetahui dimana saja zonasi kawasan pantai Talise yang sudah ditetapkan sebagai zona berbahaya atau ZRB IV yang ditetapkan antara 100-200 meter dari sempadan pantai?

Dirinya mengaku belum mengetahui daerah mana yang kena zona dan mana yang tidak. Dirinya juga belum mengetahui apakah di pantai depan lokasi penggaraman tersebut juga akan dibangunkan tanggul penahan tsunami atau tidak.

Ia menyebutkan sebelum gempa, sudah ada wacana lokasi penggaraman ini ingin dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH), namun yang jadi pertanyaan mengapa ada bangunan rumah toko (ruko) yang dibangun di depan lokasinya.

“Kita bingung, bagaimana sebenarnya pengaturan kawasan ini,” ujar Usman heran.

Menurut Usman, jika nantinya ditetapkan kawasan penggaraman ini masuk zona merah dan harus dikosongkan, pihaknya menyerahkan urusan tersebut ke pemerintah, dengan tetap menuntut ganti rugi.

“Tinggal bagaimana dari pemerintah, karena ini tanah hidup dan bersertifikat. Kalau memang kena (zona merah), ya harus diganti rugi,” terangnya.

Ia menambahkan, ada pro dan kontra terkait keberadaan pegaraman ini, namun kalau menurut dia, kawasan ini boleh dibilang aset penting bagi pemerintah terutama untuk wisata.

Ia berharap untuk rencana pembangunan di teluk ini, pemerintah harus terbuka.

Penulis : Jefrianto
Foto : Jefrianto
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini