Bangkit, Setelah Temukan Alat Dekorasi Pengantin Pascabencana

0
548
Keterangan Foto : Perlengkapan dekorasi pengantin ditemukan kembali, setelah hampir setahun tertimbun lumpur Petobo yang sudah mengeras, Kamis, (8/8/2019).

PALU – Tiga hari usai lebaran Idul Fitri 1440 H, Warsito (40) berjalan menyusuri lokasi likuefaksi di Kelurahan Petobo, tempat yang dulunya di penuhi rumah warga, kini berganti rupa menjadi gundukan tanah yang ditumbuhi ilalang, beluntas dan tanaman liar yang menghijau.

Sito terus berjalan di hamparan luas itu, dari kejauhan ia melihat dua orang pemulung tengah menggali sesuatu, tepat diatas rumah Sito yang telah tertimbun lumpur. Lalu, ia mendekati dua pemulung itu. Tiba-tiba mata Sito tertuju pada sebuah sarung milik almarhum ayahnya, tidak jauh dari tempat itu, ia menemukan Alquran dan selembar pakaian milik ayahnya.

“Saya langsung ingat, waktu kerjadian itu, Alquran itu saya simpan di atas meja dekat peralatan dekorasi pengantinku,” kenang Sito

Sito pun semakin penasaran, ia lalu minta tolong kepada dua orang pemulung itu agar terus menggali tanah, berharap agar peralatan dekorasi pengantin yang dulunya menjadi usahanya didapatkan kembali.

Tidak lama dilakukan proses penggalian, terlihatlah sebuah karung warna putih dan sejumlah barang dekorasi lainnya. Sito kemudian sujud syukur, sejumlah alat dekorasi pengantin miliknya bisa diselamatkan.

Saat gempa bermagnitudo, 7,4 SR memicu terjadinya likuefaksi 28 September 2018 lalu, telah meluluhlantakkan dan menelan rumah Sito bersama rumah warga lainnya yang berada di Jalan HM Soeharto, Kelurahan Petobo, Kota Palu. Ribuan jiwa melayang saat bencana itu terjadi.

“Lumpur datang menggunung bak ombak di laut dan menelan semua bangunan yang ada disini dan kini lumpur itu telah mengeras,” ucapnya sambil mengusap wajahnya.

Beruntung Sito dan dua saudarinya masih diberi kesempatan hidup ke dua setelah bencana terjadi. Ketika itu, mereka bertiga lari menyelamatkan diri, banyak orang minta tolong, tapi mereka tidak berdaya menolong orang lain mereka terus saja berlari.

“Tangisan dan teriakan minta tolong ribuan orang yang terjebak di dalam lumpur malam itu, sungguh menyayat hati,” tambah Sito sambil menghela nafas yang dalam lalu menghembuskannya perlahan, tatapannya nanar, berusaha mengingat kembali peristiwa menakutkan itu.

“Saya tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi saat itu. Dipikiran saya kiamat sudah ini, kami bertiga panik, hanya bisa menangis dan pasrah,” ujarnya lirih.

Semua harta bendanya tak ada yang selamat, kecuali telpon selularnya yang kebetulan dikantonginya saat peristiwa mengenaskan itu terjadi.

Nah, benda kecil itu membuka jalan hidupnya. Sito kemudian dihubungi temannya sesama profesi. Sito diajak membantu untuk mendekorasi acara perkawinan. Dari situlah Sito memperloleh upah. “Tidak banyak, tapi cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari selama hidup ditenda pengungsian,” ujarnya.

Saat likuefaksi terjadi, kata Sito, dirinya tidak berharap lagi barang dekorasi dan harta benda lainnya itu ditemukan kembali. Namun nasib berkata lain, selama 9 bulan barang dekorasi itu tertimbun dengan tanah dan reruntuhan rumahnya, tapi kondisinya masih bagus tidak ada selembar dekorasi pun yang rusak.

“Saat ditemukan, perlengkapan dekorasiku tidak kena lumpur. Posisinya ada dibawah reruntuhan bangunan rumahku yang sudah tertimbun tanah, bagi saya ini adalah keajaiban,” katanya saat ditemui Kamis, (8/8/2019).

Keterangan foto: Salah satu karya Sito, dekorasi pengantin yang indah dan cantik.

Sejak perlengkapan dekorasi pengantin miliknya ditemukan, Sito kini bisa tersenyum kembali, sudah empat kali ia melayani permintaan. Tarif sewanya bisa mencapai Rp 5 Juta hingga Rp. 7 juta tergantung jauh dekatnya tempat yang akan di dekorasi.

Kini, Sito dan dua saudarinya tak lagi tinggal di tenda pengungsian. Mereka saat ini tinggal di Huntara P2 Petobo. Soal pengalaman Sito, tidak perlu diragukan lagi. Sito sudah pernah ikut bekerja dengan orang yang memiliki usaha dekorasi pengantin 10 tahun lamanya. Hingga kemudian dia punya modal dan mencoba membuka usaha dekorasi pengantin tersebut.

Tiga bulan sebelum gempa, pria lajang ini telah menekuni profesinya menyediakan perlengkapan dekorasi pengantin dibantu sepupunya, Andre (30). Saat itu, sudah banyak orang yang menggunakan jasanya. Tak hanya di Kota Palu, jasanya pun di pakai hingga keluar daerah seperti Ampana, Toli-toli dan Parigi Moutong.

“Dalam satu bulan, biasanya ada 3 sampai 4 kali orang menggunakan jasa dekor saya kala itu,” terangnya.

Bagi yang berminat untuk menggunakan jasanya, bisa menghubungi Sito di 0852.4093.1817 bersama sepupunya, Andre, mereka siap disewa untuk mendekor acara perkawinan dari kamar pengantin hingga pelaminan dengan indah nan cantik.***

Penulis : Erna Dwi Lidyawati
Foto : Dok Warsito/ Erna Dwilidyawari
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini