Bangkit dari Situasi Sulit, ini yang Dilakukan Budi Penyintas Biromaru

0
148

WAKTU telah menunjukan pukul 16.30 waktu Indonesia bagian tengah. Matahari tampak jelas makin menjauh dari bayangan. Namun, suara bising kendaraan roda dua dan roda empat hilir mudik di lokasi hunian sementara (huntara) Ranggulalo, di Jalan Pramuka, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi.

Sementara di tepi jalan dekat lokasi huntara berdiri tegak beberapa lapak milik para penyintas yang menjual berbagai kebutuhan dapur seperti, cabe, tomat, bawang putih dan kebutuhan lainnya.

Budi (30) salah satu pemilik lapak mengaku dirinya menjual bumbu dapur di tempat itu sejak satu minggu pasca gempa 28 September 2018 silam. Sebelumnya, Ia adalah penjual bunga hias di pasar tradisional Biromaru.

“Saat bencana alam terjadi, ratusan bunga milik saya hilang ditelan bumi sebab itulah saya beralih menjual bumbu dapur,” kata Budi, Sabtu (13/7/2019).

Meski demikian, Budi masih bersyukur masih ada beberapa bunga yang bisa diselamatkan. Beberapa bunga itu kini dipajang di depan teras papan Huntara Ranggulalo. Jika ada yang berniat membeli bunganya, dengan senang hati Ia akan melayani.

Beberapa hari pascabencana, Budi akhirnya menjadi pengangguran. Tak ada lagi uang di kantongnya. Dompet yang berisi sejumlah kartu penting seperti Kartu Tanda Penduduk dan sejumlah uang turut tenggelam bersama bunga- bunga hias lainnya. Budi pun hanya bisa pasrah kala itu.

Hingga suatu hari temannya, Ade Imran mengajaknya mencari ikan di kolam. Kebetulan pasca bencana banyak kolam ikan akhirnya jebol. Dari pekerjaan itu, Budi dan Ade menerima bayaran setiap satu karung berisi ikan mas maupun ikan mujair.

Keduanya pun membaginya. Ikan-ikan tersebut kemudian dijual ke pengungsi.

Karena kondisi serba terbatas saat itu, Budi menerima saja jika ada yang menawar ikannya dengan harga murah. Hingga akhirnya Ia bisa mengumpulkan uang sebesar Rp. 300 ribu.

Hasil penjualan ikan itulah kemudian dibelikan berbagai kebutuhan dapur. Budi kemudian berjualan di depan huntara Ranggulalo.

“Alhamdulillah dari modal 300 ribu itu sekarang sudah berkembang. Keuntungannya bisa 1 juta hingga 1 juta lebih,” katanya sambil tersenyum

Disituasi yang serba sulit saat ini, Ia tidak mau hanya menunggu bantuan dari pemerintah.

“Kita harus semangat, Allah marah kalo kita berputus asa terus.” tandasnya.[]

Penulis : Erna Dwi Lidiawati
Foto : Erna Dwi Lidiawati
Editor : Sarifah Latowa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini