Artefak Bencana 28 September akan Jadi Koleksi Museum Sulawesi Tengah

0
574
Keterangan foto: Restorasi koleksi Museum Sulteng yang didukung UNESCO pada Februari 2019.

PALU — Museum Sulawesi Tengah akan melengkapi koleksinya dengan benda-benda (artefak) peninggalan bencana gempa, tsunami dan Likuefaksi 28 September 2018 yang terjadi di Palu, Sigi dan Donggala. Langkah ini untuk menjadikan Museum Sulawesi Tengah sebagai pusat informasi dan edukasi kebencanaan.

Arkeolog Museum Sulawesi Tengah, Iksam Djahidin Djorimi, mengatakan, artefak-artefak bencana itu nantinya akan dipajang di Museum Sulawesi Tengah. Benda-benda tersebut akan melengkapi sejumlah buku dan arsip koleksi Museum Sulawesi Tengah yang berisikan informasi kebencanaan di masa lalu.

“Artefak tersebut nantinya akan semakin mengaktualisasi apa yang sudah diinformasikan oleh buku dan arsip,” kata Iksam, Sabtu pekan lalu, 20 Juli 2019.

Program tersebut didukung oleh UNESCO, Badan Pendidikan, Sains dan Kebudaayaan PBB. Ini menjadi program lanjutan setelah pada Februari lalu, UNESCO membantu restorasi benda-benda koleksi Museum Sulawesi Tengah yang rusak karena gempa 28 September 2018.

Iksam menjelaskan, melalui artefak kebencanaan tersebut bisa menjadi pengingat bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Termasuk menjadi media pembelajaran siswa di sekolah. Sehingga antara pemerintah dan masyarakat berupaya untuk bisa mengurangi risiko dari setiap potensi bencana yang terjadi.

Isamu Sakamoto, ahli restorasi benda pusaka dan arsip asal Jepang yang menjadi bagian dari program UNESCO di Sulawesi Tengah, mengatakan, pengumpulan artefak kebencanaan, utamanya tsunami di Jepang juga banyak diinisiasi oleh komunitas dan pekerja seni.

“Mereka kemudian merakitnya dan menjadikannya sebagai pusat untuk bertemu dan berkumpul,” katanya saat mengunjungi Palu 20 Juli 2019.

Hal serupa pun bisa dilakukan di Palu dan sekitarnya. Mengingat, Sulawesi Tengah memiliki potensi gempa, tsunami dan likuifaksi yang tinggi.

Menurut Isamu, UNESCO mendukung restorasi dan pengumpulan artefak bencana di Museum Sulawesi Tengah karena program seperti ini jarang dilirik oleh pemerintah dengan alasan tidak ada biaya. Padahal museum bisa menjadi tempat pengingat, petunjuk dan pusat informasi agar ke depannya masyarakat lebih siap menghadapi bencana.

“Terutama bagaimana mengajarkannya kepada generasi muda,” kata dia.[]

Penulis: Ika Ningtyas
Foto: Istimewa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini