Akademisi Sarankan Hutanisasi Pesisir Teluk Palu

0
151

PALU – Akademisi Universitas Tadulako (Untad) Dr Ir Fadly Y Tantu, menyarankan agar pemerintah menjadikan kawasan pesisir Teluk Palu, sebagai kawasan ruang terbuka hijau (RTH), dengan membudidayakan tanaman pelindung seperti bakau, ketapang, dan tanaman pelindung lainnya. Menurutnya, langkah tersebut lebih ekonomis dan alami, ketimbang harus membangun tanggul, dengan biaya yang tidak sedikit.

Hal ini diutarakan oleh Fadly, terkait polemik penolakan pembangunan tanggul di kawasan pesisir Teluk Palu, yang bergulir beberapa bulan terakhir. Buntut dari penolakan ini, kelompok masyarakat di Kota Palu menginisiasi sebuah petisi online untuk menggalang dukungan terhadap upaya penolakan tersebut.

Fadly menjelaskan, jika tanggul tersebut dibangun dengan maksud untuk mencegah abrasi pantai, maka hal tersebut adalah hal yang wajar. Namun, jika tanggul tersebut dibangun dengan maksud untuk meredam terjangan tsunami, dirinya masih meragukan hal tersebut.

“Saya belum yakin jika pembuatan tanggul adalah solusi yang tepat, untuk meredam terjangan tsunami di Teluk Palu. Pembangunan tanggul menurut saya, justru akan menimbulkan masalah baru, yakni potensi kerawanan banjir bagi kawasan yang elevasinya rendah dan dekat dengan pesisir. Menurut saya, upaya hutanisasi di kawasan pesisir Teluk palu, dapat menjadi salah satu solusi alami untuk meredam dampak tsunami di Teluk Palu,” jelasnya.

Lanjut Fadly, upaya hutanisasi ini, harus dilaksanakan dengan komitmen, salah satunya dengan memindahkan masyarakat yang bermukim di pesisir, ke lokasi yang lebih aman, yang letaknya tidk jauh dari kawasan pesisir. Dirinya menganjurkan, kawasan sempadan pantai yang masuk dalam Zona Rawan Bencana (ZRB) IV atau yang masuk zona yang terlarang untuk didirikan pemukiman atau kawasan perekonomian, secara keseluruhan dijadikan kawasan RTH.

“Kalau perlu, kawasan perhotelan, jalan dan jembatan yang sebelumnya berada di pesisir pantai, dipindahkan ke batas aman dari pesisir pantai. Jadi, kawasan sempadan pantai yang masuk zona terlarang, secara keseluruhan dijadikan RTH. Kawasan RTH tersebut dapat menjadi kawasan wisata baru bagi masyarakat, yang juga dapat menjadi potensi ekonomi baru bagi masyarakat sekitar,” lanjutnya.

Fadly mencontohkan kawasan pantai Taman Ria di masa lalu sekitar tahun 1970-an, merupakan kawasan hutan alami yang ditanami tanaman pelindung pesisir seperti bakau. Sempadan pantai pada masa itu kata dia, sama dengan posisi sempadan pantai saat ini.

“Jadi, kalau saya melihat apa yang terjadi hari ini di Teluk Palu, sama seperti keadaan di masa lalu, terutama garis pantainya. Ini artinya, laut mengambil kembali hak meruangnya, dan menyikapi hal tersebut, hutanisasi kawasan pesisir pantai adalah solusi alami bagi upaya normalisasi kawasan Teluk Palu,” tutupnya. ***

Penulis: Jefrianto
Foto: Jefrianto
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini