Ada Lamale dari Kampung Lere

0
175

PALU – Perekonomian masyarakat Kota Palu mulai menggeliat. Perlahan kondisi ekonomi mulai kuat dan bangkit, selaras dengan jargon Palu Kuat dan Palu Bangkit yang fenomenal itu.

Dua bulan pasca bencana gempa bumi dan tsunami, para korban gempa tak ingin tinggal diam dan meratapi duka. Dengan kondisi apa adanya, mereka kembali beraktivitas layaknya hari-hari biasa.

Dari pesisir pantai, aktivitas masyarakat juga tak kalah menggeliat. Meski suasana daerah itu tak seramai dahulu, namun masyarakat sekitar perlahan mulai menunjukkan kembali bahwa mereka telah bangkit dari keterpurukan.

Kambece, seorang pedagang ikan di pesisir pantai Kampung Lere, menjadi salah satu di antara sedikit orang yang mulai bangkit dari terpaan musibah yang dialaminya. Hampir menjadi korban tsunami tak membuat dirinya lemah dan trauma. Di usia yang tak lagi muda, ia tetap tegar menjalani situasi sulit seperti ini.

Sejak mentari terbit, ia bersama rekannya sudah mulai menjajakan lamale yang ditangkap oleh nelayan. Lamale merupakan kosakata bahasa Kaili yang berarti udang kecil. Kambece menjual lamale karena minat masyarakat terhadap hasil laut itu masih tinggi dibandingkan ikan dan hasil tangkapan lainnya.

Kambece yang kini telah berusia 70 tahun, telah menjadi pedagang lamale sejak masih berusia muda. Meski ia merupakan seorang wanita, tapi ia telah akrab dengan lautan Palu berpuluh tahun lamanya.

Bahkan Kambece di masa muda sering mengikuti sang ayah untuk menangkap ikan di tengah lautan.
“Saya dari masih cewe sudah melaut dengan bapak. Sudah biasa dengan ombak laut. Nanti sekarang menantu yang melaut, saya yang berjualan disini,” ucapnya.

Keluarga Kambece bisa dikatakan sebagai keluarga nelayan. Ayahnya merupakan seorang nelayan dan beberapa menantunya juga kini berprofesi sebagai nelayan. Bahkan ia akui, cucunya juga terkadang ikut melaut bersama orangtuanya.

Sebelum terjadi gempa dan tsunami, Kambece serta beberapa penjual ikan lainnya berjualan di pinggiran pantai dekat Jembatan Palu IV. Sejak fajar terbit hingga malam gelap, mereka menjajakan hasil tangkapan para nelayan untuk dijual kepada masyarakat.

Kambece memiliki sebuah pondok yang digunakan sebagai tempat beraktivitas sehari-hari. Pondok itulah yang menjadi saksi bisu perjuangan Kambece guna menghidupi keluarganya hingga kini. Namun pondok tersebut juga telah habis tak terbekas akibat dihantam air tsunami.

Rumah Kambece juga mengalami kerusakan parah hingga tak bisa ditinggali. Dengan kondisi seperti itu, ia bersama sanak keluarga bergegas mengungsi ke rumah kerabat di daerah Tanggiso, Kecamatan Tatanga, dan setelah itu menetap sementara di tenda pengungsian yang terletak di halaman Masjid Agung Darussalam.

“Rumah sudah tidak bisa lagi ditinggali. Tempatnya kami juga katanya sudah masuk zona merah. Makanya kami disini mengungsi di tenda Masjid Agung sampai sekarang,” jelasnya.

Hal yang sama juga dialami Rusna, penjual lamale lainnya yang turut menjadi korban kemalangan pada 28 September lalu. Keadaan yang serba sulit saat ini membuatnya mau tak mau harus kembali berjualan lamale, meski di tempat yang terbilang sepi.

Rumahnya turut hanyut terbawa arus air yang begitu deras. Peralatan tangkap ikan beserta perahu juga turut hilang. Maka tidak ada lagi pilihan lain, selain berjualan kembali di daerah itu walaupun sampai harus melawan rasa trauma.

“Kami disini kalau tidak jual lamale, darimana lagi kami dapat uang karena disini tempat kami mencari makan,” ucapnya.

Baik Kambece maupun Rusna menjual lamale dengan satuan per kilogram. Untuk saat ini, harga lamale per satu kilogram dipatok dengan harga Rp 60.000.

Kambece mengakui, harga ini terlampau lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga saat sebelum gempa.
Lamale yang dijual tak hanya dalam kondisi segar, namun juga dijual dalam kondisi kering. Setiap pagi, mereka menggelar waring hitam untuk ditaburkan lamale yang akan dijemur. Waktu penjemuran pun tak terlalu lama, tergantung kondisi cuaca saat penjemuran.

“Biasa kalau panas matahari hanya satu jam saja dijemur. Tapi kalau cuaca mendung paling lama dua jam,” tambah Kambece.

Meski menjualnya di tempat yang cukup sepi, namun keduanya mengaku jualan mereka tetap laku dan diminati masyarakat. Bahkan mereka telah memiliki pelanggan tetap yang selalu memesan dalam jumlah besar. Mulai dari pedagang di pasar tradisional hingga pemasok dari luar daerah.

Mereka selaku pedagang lamale menaruh harapan besar kepada pemerintah agar dapat menyediakan fasilitas yang lebih baik agar dapat berjualan dengan kondisi yang nyaman dan lebih baik. Karena tak dapat dipungkiri, menjadi seorang pedagang hasil laut merupakan satu-satunya pekerjaan yang dapat menghidupi diri mereka.

Besar pula harapan dari hati mereka agar pemerintah dapat memberi perlengkapan yang layak kepada nelayan, baik berupa perahu maupun alat tangkap, agar hasil tangkapan nelayan lebih banyak dan hasil pendapatan mereka juga akan lebih banyak.

“Kami berharap sekali, setidaknya pemerintah bantu kami supaya bisa kami disini melaut dan menjual lamale ini di tempat yang nyaman,” harap Kambece.[]

Reporter : Zulrafli Aditya
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini