Ada Cuci dan Servis Gratis, Cara Perusahaan Swasta Bantu Pengungsi Sulteng

0
144

PALU — Mobil Toyota Innova hitam berhenti tepat di gerbang kamp pengungsi Kelurahan Duyu, Palu, Jumat (30/11/2018) tepat pukul 14.00 Wita. Seorang pria jangkung mengenakan topi biru membuka pintu dan langsung melambaikan tangan kepada kerumunan warga yang telah menunggunya.

Pria yang mengenakan rompi berwarna senada dengan topinya itu bernama KangHyun Lee yang tak lain adalah Vice President Corporate Affairs PT Samsung Electronics Indonesia. Ia bersama timnya hadir di tempat itu sebagai salah satu bentuk empati terhadap bencana yang dinilainya cukup dahsyat.

Meski berdarah Korea, tapi pria ini cukup fasih berbahasa Indonesia. Satu persatu warga terdampak bencana disalami dan diajak ngobrol. Beberapa kali ia menepuk bahu lawan bicaranya, memberi semangat dan doa agar keadaan yang sulit itu dapat segera teratasi dan menjadi lebih baik.

Lee tampak sibuk ketika berada di kamp pengunsian itu. Selain banyak berbicara dengan korban bencana, ia juga turun langsung membenahi pakaian-pakaian pengungsi yang dicuci secara gratis di posko yang dibuatnya di tempat itu.

“Nurlaela, mana Nurlaela? Ini pakaiannya sudah dicuci bersih. Nanti kalau ada pakaian kotor dibawa kesini lagi yah,” ujar Lee kepada Nurlaela setelah menyerahkan pakaian yang sudah dicuci.

Di kamp pengungsian itu, Samsung mendirikan posko dengan membuka layanan cuci pakaian gratis, perbaikan alat elektronik, sarana telekomunikasi, arena hiburan dan bermain, posko itu juga membuka dapur umum bagi pengungsi. Selain di Duyu, Samsung juga membuka posko di pengungsian Jono Oge, Kabupaten Sigi.

Posko itu merupakan kelanjutan dari donasi yang sebelumnya juga sudah diserahkan kepada Palang Merah Indonesia (PMI) senilai Rp7,5 miliar. Nilai itu menurutnya tidak seberapa dibanding kerugian materi dan psikis yang ditangung oleh para korban.

“Kami ada di Indonesia, berusaha di Indonesia, sepatutnya kami turut priahtin dengan bencana ini. Dan sebagian dari korban adalah konsumen kami,” ujarnya.

Lee berpindah ke dapur umum. Ia menyaksikan pengungsi yang saling bahu membahu menyiapkan makanan untuk dikonsumsi bersama.

“Kalau di Korea, ini namanya ogsusu,” kata Lee sembari mencicipi jagung manis yang disediakan di dapur umum posko itu. Ia agak heran, karena di Korea, jagung seperti itu dimakan begitu saja, namun di kamp itu menjadi kebiasaan disantap dengan kelapa parut pedas.

“Hmmm… enak juga, tapi pedas,” kata Lee disambut gelak tawa warga yang mengerumuninya.

Lee tak henti-hentinya memberi semangat kepada pengungsi. Menurutnya, Korea juga termasuk wilayah yang sangat rentan dengan bencana. Tapi tidak membuat warganya berdiam diri, sebaliknya berusaha menjadi akrab dengan bencana itu, tentu dengan adaptasi yang diperlukan.

Ia berharap, kerawanan bencana di Indonesia terutama di Palu juga dapat segera melakukan penyesuaian, mulai dari bangunan hingga pengaturan tata ruang wilayah.

Sebelum beranjak dari kamp pengungsian itu, Lee menyempatkan diri memotret tenda-tenda pengungsian berwarna biru bertuliskan “China”.

“Saya memotret tenda biru itu untuk saya bawa ke negara saya. Saya mau tunjukkan kepada pemerintah saya, kenapa kok di Palu ada tenda biru bertuliskan China, tapi tidak ada tenda yang bertuliskan Korea,” selorohnya.

Apa yang dilakukan Samsung itu, menuasi apreasiasi dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

“Keren nih peran swasta yang memberikan servis gratis buat semua produk Samsung di tempat bencana di Sulteng. Coba swasta lain juga melakukan hal yang sama. Entah itu kendaraan, elektronik dll. Masyarakat sangat terbantu,” tulis Sutopo dalam cuitannya di Twitter, 1 Desember lalu.[]

Reporter : Basri Marzuki
Editor: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini