81 Tahun Lalu, Tsunami Juga Luluhlantakkan Teluk Palu

0
149
KETERANGAN: Surat kabar Leeuwarder Nieuwsblad edisi 21 Mei 1938 yang menggambarkan keadaan di lembah Palu, pasca bencana gempa bumi dan tsunami 20 Mei 1938.

HARI ini 28 Mei 2019, genap delapan bulan, tragedi kemanusiaan di Sulawesi Tengah. Gempa bumi, tsunami, liquefaksi, penurunan permukaan tanah dan longsor hingga banjir. Dua musibah yang disebut terakhir, sampai hari ini bahkan masih terus terjadi. Hingga hari ini, sebagian wilayah di Kecamatan Dolo Selatan dan Gumbasa di Sigi, bahkan masih berkutat dengan masalah ini.

Menandai delapan bulan musibah dahsyat itu, kami menukil kembali tulisan yang berasal dari dokumentasi lama, yang berumur nyaris seabad. Dokumentasi yang mengingatkan, bahwa sejak dulu kawasan yang kita tinggali ini, sebenarnya sudah akrab dengan musibah. Khususnya gempa dan tsunami.


Teluk Palu merupakan teluk yang paling sering dihantam oleh tsunami dalam 100 tahun terakhir. Tercatat, tiga gelombang tsunami pernah meluluhlantakkan Teluk Palu dalam kurun 100 tahun terakhir, yakni, 1 Desember 1927, 20 Mei 1938, dan 28 September 2018.

Hari ini, 20 Mei 2019, genap 81 tahun yang lalu, bencana gempa bumi yang disertai gelombang tsunami, pernah meluluhlantakkan wilayah teluk Palu. Pengamat kebencanaan dari Fakultas MIPA Universitas Tadulako (Untad) Drs Abdullah, MT, dalam kajiannya tentang sesar Palu Koro menyebutkan, gempa bumi yang terjadi pada Jumat, 20 Mei 1938 pukul 01.08 WITA tersebut, memiliki magnitudo 7,6, dengan episentrum 119,3 BT dan 0,5 LS. Kedalaman pusat gempa 33 km, serta memicu tsunami di teluk Palu setinggi 4 meter.

Gempa bumi ini juga menyebabkan down-lift atau penurunan permukaan tanah di sebagian wilayah teluk Palu. Dalam catatannya, akibat gempa bumi tersebut, 50 rumah dan jaringan perpipaan di Palu rusak/hancur, 11 rumah rusak di Wani, 30 rumah di Tawaeli, serta 60 rumah di Donggala. Di Mamboro, lokasi pasar lenyap ditelan tsunami dan saat ini menjadi laut. Kemudian, dalam catatan tersebut juga disebutkan, beberapa orang hanyut terbawa gelombang dan seorang wanita keturunan Tionghoa tewas tenggelam.

Dalam catatan BMKG Palu, gempa ini memiliki intensitas VIII-IX MMI. Intensitas VIII MMI ditandai kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat, retak-retak pada bangunan degan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh. Intensitas IX ditandai dengan kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak, rumah tampak agak berpindah dari pondamennya, serta pipa-pipa dalam rumah putus.

Bencana gempa bumi ini, juga tercatat dalam sejumlah surat kabar, baik terbitan Belanda maupun terbitan di Indonesia yang berbahasa Belanda. Salah satu yang paling rinci menggambarkan keadaan pasca bencana tersebut adalah Leeuwarder Nieuwsblad, surat kabar harian tertua di Belanda yang didirikan oleh Abraham Ferwerda, yang pertama kali muncul pada tahun 1752.

Dalam edisi 21 Mei 1938, surat kabar tersebut melaporkan, gempa bumi tersebut dirasakan di wilayah Palu dan Mamboro, dan menyebabkan kerusakan besar. Di Palu, 50 rumah dilaporkan ambruk, sementara di banyak tempat tanah terbelah. Di Wani, delapan rumah telah hancur atau rusak. Di Mamboro 17 rumah rusak telah hanyut oleh gelombang pasang. Seorang wanita China telah tenggelam. Adapun di Donggala, guncangan pertama dirasakan pada sepuluh menit sebelum jam 00.30 WITA.

Guncangan ini dilaporkan intens terjadi dan berlangsung selama satu menit. Guncangan kedua bahkan lebih buruk dan berlangsung selama tiga menit. Orang-orang dilaporkan hampir tidak bisa berdiri dan melarikan diri ke jalanan. Sepanjang malam tersebut, warga menghabiskan waktu di luar rumah, dengan akibat yang lebih serius daripada dugaan awalnya.

Pasca bencana gempa bumi 20 Mei 1938, sejumlah pihak berupaya menyalurkan bantuan ke wilayah yang terdampak. Salah satu yang tercatat adalah Bala Keselamatan (Salvation Army).
Hal ini tercatat dalam sejumlah laporan surat kabar, baik terbitan Belanda maupun lokal, yang menceritakan perihal tersebut.

Salah satunya surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie¨ edisi 25 Mei 1938, yang melaporkan, Komandan De Groot dari Bala Keselamatan menerima laporan dari Sulawesi Tengah, bahwa sebagai akibat gempa bumi di wilayah tersebut, mengakibatkan kerugian sekitar 10.000 gulden dari basis koloni pertanian di Kalawari/Kalawara.

Selain itu, terdapat kerugian sekitar 4.000 gulden, diakibatkan kerusakan disebabkan oleh bangunan dan sekolah lain. Di wilayah basis mereka di Kapiroi, hampir semuanya telah hancur. Adapun total kerugian yang disebabkan oleh gempa bumi berjumlah 14.000 hingga 15.000 gulden. Untuk itu, Bala Keselamatan meminta bantuan dari publik.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya Oktober 1938, Komandan Teritorial Bala Keselamatan pasca JW De Groot, Kolonel AC Beekhuis bersama istrinya berkunjung ke Sulawesi Tengah. Kunjungan ini dalam rangka perayaan 25 tahun pekerjaan misionaris di wilayah tersebut.

Sebagaimana diberitakan surat kabar Soerabaijasch Handelsblad edisi 18 Oktober 1938, pada kesempatan kunjungannya, Kolonel Beekhuis memeriksa dan memutuskan apa yang akan dipulihkan dan diperbarui. Sekolah yang terdampak bencana telah dan sedang diperbaiki. Secara khusus kata dia, bantuan keuangan besar telah disediakan untuk pekerjaan perbaikan ini dari lingkaran mereka sendiri.

Bencana gempa bumi 20 dan 23 Mei tahun 1938, ternyata juga menarik perhatian Ratu Kerajaan Belanda saat itu, Wihelmina. Dirinya bahkan memberikan bantuan pribadi sebesar 1000 gulden untuk korban bencana tersebut. Hal ini terekam dalam catatan surat kabar Bredasche courant, terbitan 16 Juni 1938, yang melaporkan, pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda kawasan teluk Palu, 20 Mei 1938 dan Teluk Tomini 23 Mei 1938, Ratu Kerajaan Belanda, Wilhemina, menyerahkan bantuan sebesar 1000 gulden kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, untuk kepentingan korban bencana.

Masyarakat di kawasan teluk Palu dan sekitarnya, mengabadikan bencana gempa bumi 1938 ini, lewat syair dan ingatan kolektif yang diwariskan lewat tradisi lisan yaitu Tutura. Salah satunya dapat dilihat di sebuah Syair Kayori dari Kayumalue, yang menggambarkan kejadian di tanggal 20 Mei 1938, yang bunyinya sebagai berikut:

Goya-goya Gantiro,
To’ Kabonga-Loli’o,
Palu-Tondo-Mamboro No’ Toyamo,
Kayumalue Melantomo.

Artinya: Gempa di Ganti, terlihat orang Kabonga – Loli Oge, daerah Palu-Tondo dan Mamboro telah tenggelam, yang tersisa hanya Kayumalue yang terapung.
Selain itu, di Mamboro sendiri, terdapat kisah yang diceritakan kembali oleh anggota KHST, Slamat Anugrah, berdasarkan hasil wawancaranya dengan sejumlah orang tua di Mamboro, seorang wanita China yang tewas dalam bencana 1938 tersebut bernama Ban Ho. Ban Ho ini dikisahkan mendirikan toko di bawah kolong rumah panggung milik nenek dari Slamat. Rumah tersebut terletak di daerah dekat kawasan Perikanan di Mamboro saat ini.

Menurut cerita tersebut, saat gelombang tsunami menerjang, air laut sampai ke daerah Ngapa dekat dengan Boya, kurang lebih 1 KM dari bibir pantai.
Cerita lainnya, pasca tsunami, ada beberapa rumah yang berhasil diselamatkan, namun banyak rumah yang menjadi korban. Salah satunya rumah kediaman istri Magau Tawaeli, Yotolemba, yaitu Mahanila. Rumah bangsawan asal Siranindi ini menjadi salah satu rumah di Mamboro yang hanyut terbawa tsunami.***

Penulis: Jefrianto
Foto: REPRO KHST
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini