30 Balita Kesulitan Popok Bayi di Halaman Mesjid Agung

0
533

TIGA belas bulan gempabumi, tsunami dan liquifaksi yang melanda Palu, Sigi dan Donggala berlalu. Sebagian besar pengungsi sudah menempati hunian sementara yang dibangun pemerintah dan relawan. Walau demikian masih ada pengungsi yang memilih bertahan di tenda pengungsian. Salah satunya di halaman Mesjid Agung – Palu Barat.

NAMANYA Hanifah, bayi berusia 6 bulan ini nampak asyik bercengkrama dengan kakaknya. Ia adalah salah satu bayi yang masih menetap di tenda pengungsian halaman Mesjid Agung Palu Barat. Selain Hanifah masih ada total 30 batita dan balita yang masih tinggal di tenda pengungsian. Rata rata bayi membutuhkan popok, makanan bayi dan perlengkapan lainnya.

Pantauan di lapangan, sekitar 131 kepala keluarga (KK) dari blok A sampai E masih tinggal di tenda. Blok A 15 KK, blok B 33 KK, blok C 32 KK. Kemudian blok D 35 dan serta blok E 16 kk. Kondisi tenda sudah robek. Sanitasi juga buruk. Kurangnya pasokan air bersih menjadi problem tersendiri bagi penyintas di halaman terbesar di Kota Palu tersebut. Saat hujan hujan, alasa tenda terendam air.

Ulfa(46) penyintas di blok B, menuturkan sudah setahun bertahan nasib mereka belum menemukan titik terang. Persoalan air bersih bahkan menjadi masalah sejak mereka tinggal hingga hari ini.

Kerjaannya yang hanya sebagai buruh cuci tidak bisa mencukupi kebutuhan, jika harus membeli air bersih. ”Kalau terpaksa kami minum air yg juga kami pakai untuk mencuci,”tuturnya.

Ulfa mengaku, bantuan pemerintah hingga saat ini belum merata. Selain sembako, masih ada beberapa kebutuhan seperti popok dan susu bayi yang sangat diperlukan, mengingat jumlah bayi, batita dan balita juga tergolong banyak.

Hal yang sama dirasakan Fatmawati(40), ketua blok D ini mengaku kesulitan air bersih dan juga sembako.Fatma mengatakan bantuan terakhir dari dinas sosial berupa 20 kilo beras pertenda. Selain itu belum ada lagi bantuan yang datang dari pemerintah.

Fatma menambahkan dirinya yang dulu, bekerja sebagai penjual ikan saat ini berharap ada bantuan modal dari pemerintah agar dapat membuka usaha. Begitu pun dengan penyintas dari Kelurahan Lere lainnya yang sebagian besar nelayan, membutuhkan bantuan perahu untuk kembali melaut.

”Dulu kami dijanjikan huntara dari Bappeda, kemudian dikatakan dananya tidak ada. Setelah itu sebagian pengungsi mendapatkan huntara di Jalan Asam, tapi sampai di sana terjadi perselisihan antara pengungsi lain. Jadi terpaksa pengungsi kembali ke sini. ” ungkap Anto, ketua blok A.

Begitupula yang diungkapkan Nasir (62) ketua blok C, ia berharap dana stimulan yang ada bisa memperbaiki rumahnya yang rusak sedang dikelurahan lere, agar bisa kembali tinggal disana bersama keluarganya,karena sejauh ini menurut nasir, ia hanya mendapatkan bantuan dari keluarga terdekat untuk membangun rumahnya. Selain itu jadup(jaminan hidup) juga segera terealisasi bagi penyintas.

Penulis : Istianah
Editor  : Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini