Dana Pembangunan Rumah Ibu Paramita, Baru Terkumpul Rp7,8 Juta

0
277
BUTUH BANTUAN - Paramita separuh tubuhnya tak berfungsi. Ia harus memerlukan orang lain sekadar untuk bergeser dari tempatnya semula. (f-josua marunduh)

PALU – Penggagas bantuan rumah untuk ibu Paramita di Kelurahan Duyu terus mematangkan pembangunan rumah untuk pasangan Gafur dan Paramita. Sayangnya, sejauh ini dana yang terkumpul baru Rp7,8 juta. Dana sebesar ini masih jauh dari cukup, bahkan untuk sekadar membayar upah tukang yang mencapai Rp15 juta.

Natsir Said anggota Aktivis Indonesia Damai salah satu inisiator, bantuan untuk Ibu Paramita, mengatakan, hari hari ini mereka masih sangat membutuhkan uluran tangan dari dermawan untuk mempercepat realisasi rumah bagi Ibu Paramita dan keluarganya. Menurut Natsir, jangan sampai penghasilan sang suami sebagai buruh sebesar Rp80 per hari, habis tersedot untuk membayar sewa kos sebesar Rp500 ribu per bulann. ”Kami ingin agar pembangunan rumah ini berjalan secepatnya,” katanya dihubungi Minggu 19 Juli 2020. Tak hanya berbentu uang, sumbangan ada juga dalam bentuk natura, seperti semen, kerikil dan seng.

Masih menurut Natsir, sebelumnya rumag untuk Ibu Paramita direncanakan di Kompleks Perumahan CPI Jalan Dayodara – Mantikulore. Namun setelah ditinjau, kontur tanah yang berbukit dan curam tidak menguntungkan bagi seorang Ibu Paramita yang menderita lumpuh sebagai tempat tinggal permanen. Mereka pun mencari tanah di Kelurahan Nunu. ”Sekarang sudah mulai pengurusan administrasi. Kalau sudah rampung pembangunan akan dimulai sambil terus mencari tambahan dana,” terang Natsir.

Paramita adalah penyintas yang separuh tubuhnya tak berfungsi akibat hantaman gempa 18 September 2018 silam. Sejauh ini tidak pernah tersentuh bantuan dari mana pun. Suaminya, Gafur hanya mengandalkan upah sebagai buruh lepas sebesar Rp80 per hari yang tak setiap hari didapatnya. ***

Penulis: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini