2000 Jiwa Warga Rogo Membutuhkan Air Bersih

0
540
Krisis air bersih : Warga Desa Rogo menggunakan air sungai yang keruh ini, sebagai kebutuhan mandi, mencuci pakaian bahkan dikonsumsi untuk memasak. Air sungai ini menjadi satu-satunya sumber air di desa mereka.

PALU – Air bersih di Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi belakangan ini mulai sulit diperoleh. Sumber air dari sumur dangkal yang biasanya digunakan warga tidak lagi tersedia.

Hal itu disebabkan terjadi penurunan tanah (downlift) hingga tujuh meter akibat gempa bumi 28 September 2018 silam. Sehingga, pipa mesin pompa air tidak dapat menjangkau sumber mata air.

Kondisi itu memaksa warga menggunakan air dari sungai kecil yang mengalir di empat dusun desa itu. Meskipun keruh mereka terpaksa mengkonsumsinya karena tidak ada lagi sumber air lainnya.

Beragam cara telah dilakukan warga untuk menjernihkan air sungai itu, baik itu cara tradisional berupa penggunaan ijuk maupun bahan lainnya dan filterisasi otomatis.

Hanya saja upaya itu tidak mampu memenuhi kebutuhan 546 kepala keluarga (KK) yang tinggal di desa itu. Akibatnya sejumlah warga mulai terserang sejumlah penyakit.

Manager kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Tengah, Stevandi, menyatakan pemerintah harus segera menggambil langkah untuk mengatasi krisis air di desa berpenduduk 2.000 jiwa itu.

“Krisis air ini di alami warga sudah hampir setahun. Harusnya pemerintah segera mengambil langkah memberikan solusi agar warga bisa mendapatkan air bersih,” ujarnya.

Endang warga Dusun III Desa Rogo mengatakan, akibat krisis air dan penggunaan air keruh sungai mulai berdampak, salah satunya yakni banyak warga mulai terserang penyakit kulit dan diare.

Menurutnya, kelompok perempuan paling rentan terhadap dampak penggunaan air itu. Selain beresiko terserang penyakit, perempuan di desa Rogo memiliki tambahan kerja yakni harus mengambil air dari sungai yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal mereka.

“Air keruh itu, kami pergunakan untuk mencuci dan mandi namun terkadang kita gunakan untuk konsumsi. Memang ada resikonya sih tapi mau bagaimana lagi, hanya air itu yang bisa kita peroleh,” tuturnya.

Sejumlah warga yang memiliki kelebihan dana kata Endang, membuat sumur dangkal yang biayanya jutaan rupiah ditambah biaya listrik yang pasti membengkak karena air bawah tanah itu harus disedot menggunakan mesin yang digerakan oleh motor listrik.

 

Divisi proteksi Walhi Sulteng, Juli, sepakat bahwa harus ada langkah cepat pemerintah kecamatan dan kabupaten bahkan provinsi untuk mengatasi krisis air bersih di desa itu.

Menurutnya sudah hampir setahun krisis air di alami warga Rogo, hal ini menjadi persoalan yang terus disuarakan, hanya saja belum ada langkah yang dilakukan untuk mengatasi hal itu.

“Sikap abai itu, memperoleh dampak serius bagi kelompok perempuan dan anak,” ucapnya.

Saat ini, kata dia, Walhi Sulteng tengah membuat assesment atau penilaian di Desa Rogo, hasil penilaian itu nantinya akan diserahkan kepada pihak terkait dalam hal ini pemerintah untuk segera mengambil langkah mengatasi krisis air di wilayah itu.

Menanggapi hal itu, Kepala Desa Rogo, Fuad Udin, mengatakan, upaya mengatasi krisis air bersih saat ini tengah dilakukan pemerintah desa. Hanya saja realisasi pelaksanaannya baru bisa dilakukan pada tahun mendatang.

Gempa setahun silam, katanya, berdampak pada sejumlah infrastruktur yang berkaitan dengan pemenuhan sarana air bersih warga. Olehnya itu dia berharap pemerintah Kabupaten Sigi dan pihak lainnya bisa membantu warganya memenuhi kebutuhan air bersih.

“Sudah kita rencanakan, hanya saja baru bisa kita laksanakan tahun depan. Infrastruktur yang perlu kita perbaiki yakni bendungan, pipanisasi hingga pembuatan bak penampungan serta bak penjernih,” jelasnya.

Menurut dia, untuk memperbaiki sejumlah infrastruktur tersebut membutuhkan dana dan waktu yang lama. Ia berharap ada bantuan sementara kepada warga di desanya.

Reporter : Iwan K Basir
Editor : Sarifah Latowa

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini