19 Keluarga Masih Bertahan di Huntara Kompas

0
189

PALU — Sebanyak 19 keluarga yang diminta meninggalkan huntara Kompas di Jalan Asam III, Palu Barat, masih bertahan hingga hari ini. Sebelumnya, pemerintah kecamatan Palu Barat memberikan batas waktu dua hari, mulai Senin hingga Rabu, 24 Juli 2019.

Menurut Rahayu, salah satu penghuni huntara Kompas, mereka masih ada di huntara dan belum ada aparat yang datang meminta segera keluar. ”Kami masih bertahan dulu di huntara. Masih menunggu petunjuk dari Pak Camat,” katanya dihubungi Rabu 24 Juli 2019.

Walau demikian, mereka tetap cemas dengan rencana pemerintah itu. Sebab tidak ada tempat tinggal lagi apabila Pemerintah Kota Palu benar-benar mengusir mereka dari huntara yang sudah ditinggali sejak April 2019 itu.

Nuryani (43) salah satu warga yang gelisah jika benar-benar dikeluarkan dari huntara. Warga rusunawa di Kelurahan Lere yang mengungsi di tenda Masjid Agung Palu ini, mengaku tidak tahu akan kemana jika benar benar terusir dari huntara.

Dari sekitar 19 kepala keluarga atau 46 jiwa yang bakal dikeluarkan dari huntara Kompas, terdapat dua ibu hamil. Salah satunya adalah Sri Rahayu (25). Usia kehamilan yang memasuki bulan ke delapan, semakin membuat Rahayu bingung.

“Suaminya saya sedang di Morowali sebagai buruh bangunan di salah satu perusahaan di sana,” kata dia.

Camat Palu Barat Kapau Bouwo mengatakan, pengosongan itu karena akan ada 20 pengungsi di Masjid Agung yang akan menempati huntara yang dibangun dari Dana Kemanusiaan Kompas tersebut.

Mereka yang dikeluarkan itu, kata Kapau, adalah warga yang rumahnya masih layak huni. Selain itu, ada pula warga yang sebelum gempa, tinggal di kos atau menyewa rumah susun.

“Ada yang berasal dari luar Kota Palu maupun yang berasal dari kelurahan lain di Kota Palu,” kata Kapau. Padahal, huntara Kompas diperuntukkan bagi warga dari Kelurahan Lere.

Rencana pengosongan ini, kata dia, sudah disosialisasikan kepada warga di huntara sebanyak dua kali. Bahkan sosialisasi terakhir dilakukan pekan lalu.

Huntara Kompas berjumlah 160 bilik. Dari jumlah tersebut dibagi untuk pengungsi dari dua wilayah kelurahan, yakni 70 bilik untuk kelurahan Kabonena dan 90 bilik untuk pengungsi Kelurahan Lere.

Saat ini sebanyak 27 bilik huntara DKK Kompas masih kosong. Dengan keluarnya 19 kepala keluarga, total akan ada 46 bilik yang kosong.

Bilik-bilik itulah yang kelak akan ditempati oleh warga pengungsi dari Kelurahan Lere yang kini masih tinggal di tenda halaman Masjid Agung Palu.

Alasan Camat Palu Barat itu berbeda dengan keterangan Lurah Kabonena, Yasir Syam. Menurut Yasir, bahwa warga yang kini menempati Huntara Kompas memang berhak menempati huntara.

“Semua warga yang menghuni (huntara kompas) itu semua ada datanya sama saya, karena ada korlap yang saya percayakan secara rutin kontrol perkembangan kondisi huntara,” kata Yasir. Yasir pun terkejut dengan permintaan untuk pengosongan huntara Kompas dari yang tidak sejalan dengan kebijakan sebelumnya. Selama ini, ia menerima siapa saja korban bencana yang membutuhkan huntara sekalipun berasal dari luar Kota Palu, asalkan memiliki surat rekomendasi dari kelurahan asalnya.

Yayasan Sikola Mombine menyayangkan tindakan Camat Palu Barat, yang meminta 19 keluarga pengungsi mengosongkan huntara Kompas. Kedatangan mereka bersama aparat lengkap mempengaruhi psikologis warga, termasuk anak-anak.

Risna, Direktur Sikola Mombine, mengatakan, semestinya pemerintah kecamata Palu Barat menyelesaikan masalah itu dengan pendekatan persuasif dan dialog.

Hasil pengecekan lapangan Sikola Mombine, kata Risna, pengungsi Kelurahan Lere sebenarnya bisa menghuni beberapa bilik di dua huntara yang masih kosong di Palu Barat. Yakni huntara Kompas masih ada 27 bilik yang kosong dan huntara di jalan Buvukulu masih 29 bilik kosong.

“Itu artinya masih ada 56 bilik yang belum terisi,” kata dia.[]

Reporter: M. Faiz
Editor: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini