15 Bulan Tinggal di Tenda, Warga Nikmati Hunian Layak Huni

0
841
AKHIRNYA PINDAH - Moh Nur di depan rumah sementara di Desa Toaya (foto: yardin hasan)

DONGGALA – Moh Nur (45) tampak tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Wajahnya semringah. Senyumnya terus mengembang. Sambil mengitari rumah semi permanen berkelir putih – hijau muda, ia terus mengamati badan rumah dengan satu kamar tidur, satu ruang tamu itu. ”Syukur alhamdulilah,” katanya singkat.

Nur pantas bersyukur. Memori kelam seperti kekurangan air bersih, sanitasi yang buruk, panas dan gerah hingga tanah becek saat hujan adalah pengalaman yang dialaminya selama 15 bulan tinggal di tenda di Lapangan Desa Toaya.

Kini, cerita itu tinggal kenangan.

Kegembiraan yang sama juga terpancar dari wajah Daerudin (42). Ia duduk di beranda rumah barunya sambil menjamu kerabatnya. ”Kalau di tenda terima tamu harus di luar,” katanya mengawali pembicaraan. Senada dengan Moh Nur, ia bersyukur bantuan adanya dari lembaga kemanusiaan karena bisa mengakhiri penderitaan mereka selama di tenda pengungsian. Ia menyebut huniannya itu sebagai rumah tinggal daripada huntara alias hunian sementara – istilah yang disematkan oleh lembaga donor. ”Ini sudah semi permenen. Lantainya cor semen. Dindingnya juga semen dan kalsiboard. Bukan lagi huntara sudah rumah tinggal sebenarnya,” tambahnya ditemui saat peresmian huntara di Toaya, Sabtu 21 Desember 2019.

Daerudin dan anaknya tampak baru pindah. Di sudut ruang tamu teronggok barang-barang pindahan dari tenda. Di dalam kamar, anak semata wayangnya, Atjo (5) duduk. Di rumah barunya itu Atjo kini tinggal berdua dengan ayahnya. Ibunya Rosni, meninggal ditimpa dinding beton rumahnya saat bencana setahun lalu.

HUNIAN LAYAK HUNI – Hunian sementara layak huni terdiri dari satu ruang tidur dan satu ruang tamu tanpa dapur. (foto: yardin hasan)

Tak hanya Moh Nur dan Daerudin, mulai pekan ini, 140 warga yang rumahnya rusak, mulai tinggal di rumah sementara. Hunian sementara semi permanen hasil donasi dari tiga lembaga kemanusiaan, Japan Platform, Gugah Nurani Indonesia dan Good Neighboors. Ada tiga desa penerima manfaat dari tiga lembaga kemanusiaan tersebut. Yakni, Desa Toaya Vunta 57 unit, Desa Toaya 33 unit dan Desa Dalaka 50 unit.

David dari lembaga Japan Platform mengatakan, walaupun hanya hunian sementara namun daya tahannya diperkirakan bisa enam hingga delapan tahun. Bangunan semi material terdiri dari ruang tamu dan kamar. Sedangkan dapur dibangun sendiri oleh pemilik rumah. Ia menjamin warga penerima manfaat adalah benar-benar korban gempa 28 Sepember tahun lalu. Proses verifikasinya dilakukan dengan ketat, untuk menjamin para penerima manfaat benar-benar korban atau mereka yang terdampak musibah gempa.

Ia memastikan warga penerima manfaat tepat sasaran karena rumah yang dibangunnya didirikan di atas lahan milik warga yang rumahnya, mengalami kerusakan. Entah rusak berat, rusak ringan atau sedang. ”Dijamin penerimanya tepat sasaran,” ujarnya yakin. Namun David enggan membeberkan biaya setiap unit rumah sementara yang dibangunnya.

Namun informasi yang diperoleh dari beberapa warga setempat yang ikut dalam proses pembangunan itu, mengatakan, biaya setiap unit di kisaran Rp30 juta. Setiap tukang yang harus merampungkan 7 pekan untuk setiap unit diupah sebesar Rp5,2 juta. ”Kemudian ada seng 25 lembar, semen 30 sak, kayu dan pasir hitungan-hitungan kami sebesar Rp30 jutaan,” katanya.

SIAP DITINGGALI – Rumah sementara milik Daerudin. Rumah sementara dibangun di bagian depan. Bagian belakangnya dibangun rumah menunggu dana stimulan cair (foto: yardin hasan)

Bupati Donggala Kasman Lassa mengajak, warga menjaga fasilitas yang didapat dengan gratis itu. Rumah yang dibangun bersifat sementara walau demikian sangat layak sebagai hunian daripada tinggal di pengungsian yang fasilitasnya serba terbatas. Kelak kata dia, jika warga sudah menerima dana stimulan maka bisa dibangunkan rumah permanen. ”Ini sifatnya bangunan tumbuh. Jika sudah menerima dana stimulan bisa sambungkan lagi dengan bangunan yang sudah ada sekarang ini,” ujar Kasman.***

 

Penulis: Yardin Hasan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini