13 Kasus Kekerasan Menimpa Perempuan di Pengungsian

0
135

PALU — Gerakan Perempuan Sulawesi Tengah, mencatat, 13 kasus kekerasan menimpa perempuan yang tinggal di pengungsian. Kondisi itu menunjukkan, perempuan rentan menjadi korban berulang di situasi pascabencana.

Dewi Rana, juru bicara Gerakan Perempuan Sulawesi Tengah, mengatakan, jumlah itu terdiri dari 3 kasus pelecehan seksual, dan sisanya adalah kekerasan dalam rumah tangga. “Satu kasus sudah ditangani oleh kepolisian,” kata Dewi Rana dalam konferensi pers “Mengangkat Hak Perempuan di Pascabencana”, Rabu 28 November 2018.

Konferensi pers itu dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Ini adalah bagian kampanye internasional untuk mendorong penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia yang kali ini diperingati sejak 25 November hingga 10 Desember 2018.

Menurut Dewi, maraknya kasus kekerasan itu karena kondisi pengungsian yang tidak ramah terhadap perempuan. Antara lain tidak ada pemisahan toilet laki-laki dan perempuan, penerangan yang minim, dan penjagaan keamanan yang belum terkelola dengan baik.

“Kasus ini harus menjadi perhatian yang komprehensif. Kondisi pengungsian saat ini justru menimbulkan ketidakadilan baru bagi perempuan,” kata Dewi.

Fenomena lain yang mulai marak yakni adanya perdagangan orang dengan sasaran remaja perempuan dan anak-anak. Dewi mencontohkan di Balaroa, sekelompok orang ketahuan akan membawa beberapa anak keluar dari pengungsian.

“Di Petobo, ada beberapa perempuan datang dengan modus akan mengadopsi anak-anak korban bencana,” kata Dewi.

Munculnya kasus-kasus di atas, kata dia, membuat sejumlah organisasi perempuan menginisiasi berdirinya tenda ramah perempuan di 6 lokasi pengungsian. Tenda tersebut menjadi tempat peningkatan kapasitas bagi perempuan, pemulihan trauma dan peningkatan perlindungan berbasis kelompok.

Melalui tenda ramah perempuan itu, kata Dewi, perempuan penyintas diajak untuk mengetahui hak-hak yang harus ia dapat dalam situasi bencana. Selain itu, antar perempuan bisa saling memberikan perlindungan bagi sesamanya.

Salah satu upaya meningkatkan keamanan kelompok adalah dengan membagikan“hygiene kit” yang berisi senter dan peluit kepada ribuan perempuan di pengungsian. Peluit itu berguna sebagai alarm yang ditiup saat perempuan berada di situasi berbahaya. “Perempuan lain yang mendengarkan bunyi peluit, harus bergerak untuk menolong,” katanya.

Kordinator tenda ramah perempuan di pengungsian Petobo, Nurmin, mengatakan, tenda tersebut menjadi ruang bersama untuk mencari jalan keluar atas persoalan yang terjadi di pengungsian. Seperti kebutuhan air yang kurang, toilet yang tidak ramah termasuk munculnya kekerasan terhadap perempuan.

Penulis: Ika Ningtyas

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini